Trima kasih mengunjungi blog kami!
Para pengunjung yth. semua isi blog ini ditulis atau disusun atas kemauan pribadi. Itu berarti blog ini berisi aneka pendapat, pemahaman, persepsi pribadi, dan pemikiran pribadi atas lingkungan kerja dan hidup sekitarnya. Harapan kami isi blog ini bermanfaat bagi pengunjung yang memerlukannya. Salam, GBU.
Tampilkan postingan dengan label penyuluhan agama Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyuluhan agama Katolik. Tampilkan semua postingan
Rabu, Oktober 28, 2015
Terobosan baru, Bimas Katolik dan Pusdiklat Kerjasama Adakan Diklat Penyuluh
Dalam sambutannya, Dirjen Bimas Katolik mengatakan akan menjadikan Diklat ini sebagai program tahunan, agar semua penyuluh mendapat pembinaan melalui diklat. Melihat data yang ada, masih begitu banyak penyuluh yang belum pernah mengikuti Diklat semacam ini. “Diklat harus kita upayakan, tiap tahun”, tegas Eusabius
Hal senada juga disampaikan oleh Abdurrahman Mas’ud, Kepala Balitbang dan Diklat Kementerian Agama dalam sambutannya. Ini merupakan terobosan baru. Terobosan ini memang harus dilaksanakan, karena Balitbang dan Diklat Kementerian Agama memiliki dana terbatas untuk melaksanakan Diklat bagi semua penyuluh Agama di lingkungan Kementerian Agama. Kerjasama dengan Bimas Katolik ini merupakan kerjasama kedua dalam mendiklat tenaga teknis keagamaan. Kerjasama terdahulu adalah pendiklatan pengawas pendidikan agama Katolik. Dengan unit lain, seperti Bimas Kristen, Hindu, Buddha, kita juga akan menjajaki kerjasama melaksanakan Diklat, tegas Abdurrahman Mas’ud
Ketua Panitia, Basuki Sigit Taruno, mengatakan bahwa Diklat ini merupakan terobosan dalam rangka memberikan kesempatan Diklat bagi semua penyuluh sehingga kompetensinya meningkat dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat. Ke depan, sebagaimana disampaikan Dirjen, ini menjadi program rutin.
Basuki Sigit Taruno, dalam laporannya juga mengatakan bahwa Diklat ini bertujuan untuk Mengembangkan keprofesian berkelanjutan, yaitu mengembangkan kompetensi Penyuluh Agama Katolik yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitas penyuluh agama. Acara diawali dengan Pembukaan, masukan Narasumber dan Widyaiswara (dari unsur Pemerintah dan Lembaga Gereja Katolik), praktek/simulasi, studi lapangan, ujian, evaluasi dan pembagian sertifikat.
Diklat ini diikuti oleh 40 orang penyuluh dari berbagai provinsi di Indonesia. Mereka sangat antusias mengikuti Diklat ini, karena merupakan kesempatan berharga dalam rangka perjalanankarir mereka. Pelaksanaan Diklat berlangsung selama 12 hari, mulai dari 15 hingga 26 Juni 2015. Selama pembinaan, para penyuluh dibekali berbagai pendidikan dan pelatihan berbagai materi terkait
Diklat ini terselenggara berkat kerjasama dan Koordinasi antara Direktorat Urusan Agama Katolik Ditjen Bimas Katolik dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Pertemuan dibuka oleh Direktur Jenderal Bimas Katolik, Drs. Eusabius Binsasi. Acara pembukaan dihadiri selain Prof.Dr. Abdurrahman Mas’ud,MA., Ph.D, kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, juga dihadiri oleh Dr. H.M. Kusasi, M.Pd, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan, Drs. Agustinus Tungga Gempa, MM, Sekretaris Ditjen Bimas Katolik. Selain itu, acara pembukaan juga dihadiri pejabat Eselon III dan IV baik dari lingkungan Ditjen Bimas Katolik maupun Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. (Pormadi)
Label:
diklat penyuluh agama katolik,
kerjasama diklat,
pembinaan penyuluh agama,
penyuluhan agama Katolik
Pormadi Paternus Simbolon lahir di Parsiroan, Kecamatan Pegagan Hilir, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Pendidikan SD berlangsung di SD Inpres Parsiroan (1982-1988), Pendidikan SMP di SMP Santo Paulus Sidikalang (1988-1991), Pendidikan SMA di SMA Seminari Menengah Pematang Siantar(1991-1995). Kemudian ia melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi FIlsafat Teologi Widya Sasana Malang, Jawa Timur (1995-2000. Menikah dengan Tjuntjun pada 8 Juli 2007. Sekarang tinggal di Jakarta. Anda bisa menghubungi saya di email: pormadi.simbolon@gmail.com atau phone: +622132574808
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Pengguna:Pormadi"
Kamis, Maret 07, 2013
Martabat Manusia versus Masalah HIV dan AIDS (perspektif agama Katolik)
Pengantar
Manusia diciptakan sebagai “gambar/citra Allah” karena
itu mulia derajatnya, banyak kemampuannya, besar tanggung jawabnya.Manusia
adalah makhluk paling berharga di mata Allah, oleh karena itu manusia harus
saling menjaga martabat mulia dan luhur itu dari bahaya kerusakan dan gangguan
atas hidupnya, termasuk dari bahaya HIV dan AIDS
Dalam Kitab Suci dikatakan bahwa manusia diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah. “…, Baiklah kita menjadikan manusia menurut
gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara dan atas ternak di atas seluruh bumi dan atas segala
binatang melata yang merayap di bumi” (Kej 1:26)
Mengenal HIV
dan AIDS dan Cara Penularannya
AIDS (acquired
Immune Deficiency Syndrome) merupakan salah satu penyakit berbahaya yang
disebabkan oleh virus yang merusakkan sistem kekebalan tubuh manusia dan
melemahkan kemampuan tubuh manusia melawan semua penyakit yang datang. Virus tersebut disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit
AIDS menduduki peringkat keempat penyebab kematian pada manusia dewasa di
seluruh dunia.
Di Indonesia kasus HIV pertama kali ditemukan 24 tahun
yang lalu. Sejak tahun 2000, Indonesia tergolong sebagai Negara dengan epidemik
HIV terkonsenterasi (karena prevalensi HIV pada populasi pecandu narkoba
suntik/Penasun, PS/Penjaja seks, waria dan LSL/lelaki suka lelaki, di beberapa
kota mencapai lebih dari 5 %). Secara khusus di Propinsi Papua, , epidemik HIV
cenderung telah memasuki populasi umum yang menyebar 2,4 % populasi masyarakat
umum dewasa. Lima propinsi terbesar penderita HIV dan AIDS adalah Bali, Jakarta, Batam, Surabaya dan
Medan.
Cara penularannya meliputi (1) darah: transfusi darah,
terkena darah HIV positif pada kulit yang terluka, terkena darah menstruasi
pada kulit yang tertular, pemakaian jarum suntik yang tidak steril dan dipakai
bersama-sama, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit (yang tidak steril dan
dipakai bersama); (2) hubungan seksual: carian semen, air mani, sperma dan peju pria. Misalnya laki-laki
berhubungan dengan badan tanpa kondom atau pengaman lainnya, oral seks. Carian
vagina pada perempuan. Misalnya berhubungan badan tanpa pengaman, pinjam
meminjam alat bantu seks, oral seks. (3) Melalui ibu yang HIV positif kepada
bayi yang dikandungnya: melalui proses kehamilan, proses menyusui, proses
persalinan.
Komitmen untuk Sosialisasi Pengetahuan Komprehensif
tentang HIV dan AIDS
Di tengah martabat manusia yang luhur itu, timbul penyakit
HIV dan AIDS yang membahayakan kehidupan
manusia. Di Indonesia, epidemi dan HIV
dan AIDS dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan yang dapat menghancurkan
generasi sekarang dan yang akan datang.
HIV dan AIDS dipandang tidak saja menyangkut masalah
kesehatan, tetapi juga terkait dengan masalah spiritualitas, psikososial,
lingkungan, sosial, ekonomi, hukum dan politik.
Untuk itu, semua agama berkomitmen untuk memberikan
tuntunan dan pedoman dalam semua aspek kehidupan termasuk sosialisasi HIV dan
AIDS guna mengupayakan pencegahan dan penanggulangannya.
Komitmen itu antara
lain: (1) meningkatkan ketahanan iman bagi seluruh umatnya, (2) memberikan
dukungan nyata kepada kelompok yang rentan terhadap penularan HIV agar tidak
dikucilkan dan diabaikan hak-haknya untuk mendapatkan layanan masyarakat secara
optimal, (3) melaksanakan ajaran agama yang menegaskan kasih sayang dalam upaya
pengobatan, perawatan dan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV dan AIDS,
orang yang terkena dampak HIV dan AIDS termasuk anak yatim piatu dengan HIV dan
AIDS, (4) mengikutsertakan orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) dalam upaya
pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS, (5) mendorong peran keluarga dalam
mendukung ODHA secara utuh baik jasmanai maupun rohani, (6) membentuk dan atau
mengaktifkan kelompok kerja di dalam organisasi agama dalam upaya pencegahan
dan penanggulangan HIV dan AIDS dan (7) Mendukung upaya pemerintah dalam
pencegahan penularan HIV melalui penggunaan napza suntik, hubungan seksual dan
penularan dari ibu ke bayi dan penanggulangan AIDS.
Kebersamaan semua agama dalam komitmen ini merupakan kekuatan
penting dalam mewujudkan kesinambungan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV
dan AIDS. Sinergi dengan semua pihak terkait dapat mengoptimalkan upaya bersama
dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS.
Penutup
Martabat manusia amat berharga di hadapan Tuhan, oleh
karena itu setiap orang harus menghargai tubuh dan kehidupannya, dan memuliakan dan
mengabdi Tuhan lewat ketubuhan dan kehidupannya untuk kebahagiaan semua umat
manusia. Bagi Indonesia, upaya pencegahan dan penanggulangan ini, dapat
mengurangi dampak bahaya HIV dan AIDS bagi generasi penerus bangsa. (Pormadi Simbolon – dari berbagai sumber)
Label:
agama katolik,
martabat manusia,
masalah HIV dan AIDS,
opini,
penyuluhan agama Katolik,
sosialisasi pengetahuan HIV dan AIDS
Pormadi Paternus Simbolon lahir di Parsiroan, Kecamatan Pegagan Hilir, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Pendidikan SD berlangsung di SD Inpres Parsiroan (1982-1988), Pendidikan SMP di SMP Santo Paulus Sidikalang (1988-1991), Pendidikan SMA di SMA Seminari Menengah Pematang Siantar(1991-1995). Kemudian ia melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi FIlsafat Teologi Widya Sasana Malang, Jawa Timur (1995-2000. Menikah dengan Tjuntjun pada 8 Juli 2007. Sekarang tinggal di Jakarta. Anda bisa menghubungi saya di email: pormadi.simbolon@gmail.com atau phone: +622132574808
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Pengguna:Pormadi"
Langganan:
Postingan (Atom)
