Trima kasih mengunjungi blog kami!

Para pengunjung yth. semua isi blog ini ditulis atau disusun atas kemauan pribadi. Itu berarti blog ini berisi aneka pendapat, pemahaman, persepsi pribadi, dan pemikiran pribadi atas lingkungan kerja dan hidup sekitarnya. Harapan kami isi blog ini bermanfaat bagi pengunjung yang memerlukannya. Salam, GBU.

Kamis, Juli 25, 2019

Mengapa Epistemologi Perlu Dipelajari?

Foto: aminoapp.com

I.           Pendahuluan
     Sebagai cabang ilmu filsafat yang mengkaji secara evaluatif, normatif dan kritis, filsafat ilmu pengetahuan atau epistemologi menimbulkan kontroversi di antara para ilmuwan. Para filosof ilmu pengetahuan juga memberikan tanggapan. Lalu, apakah epistemologi atau filsafat ilmu pengetahuan masih relevan dan aktua, itulah alasan makalah ini.  Dalam paper ini, akan dibahas, apakah filsafat ilmu pengetahuan, dimensinya, sikap para ilmuwan, sikap para filosof, manfaatnya dan diakhiri dengan catatan atau tanggapan.

Keyword: filsafat ilmu pengetahuan, Karl Popper, Thomas Kuhn

II.        Filsafat ilmu pengetahuan dan kontroversinya
a.       Apakah Ilmu Pengetahuan?
           Kemajuan di bidang teknologi tak dapat dilepaskan dari ilmu pengetahuan (science). Hasil kemajuan teresebut membantu mempermudah kelancaran kehidupan manusia. Hasil kemajuan teknologi yang boleh kita nikmati merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan yang berangkat dari suatu teori dan metode yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan. Melalui teori dan metode ilmiah memungkinkan penemuan perangkat elektronik, pesawat ruang angkasa, bedah mikro, senjata atau bom nuklir. Kita dapat menggunakan telepon genggam terbaru dan berkomunikasi dengan anggota keluarga kita di kampung, kita dapat melihat foto-foto planet di luar angkasa; kita dapat menggunakan komputer; kita dapat menonton televisi, dan masih banyak kemajuan lainnya. Produk ilmu pengetahuan dan teknologi membawa kemudahan bagi kehidupan manusia.
           Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut memunculkan pertanyaan reflektif bagi para filosof. Pertanyaan dasarnya adalah “Apakah ilmu pengetahuan itu?” Pertanyaan ini sangat penting untuk memberikan jawaban pertanyaan tentang klaim kebenaran ilmiah. Berbicara ilmu pengetahuan pada hakekatnya berbicara soal metode atau serangkaian metode ilmiah. Inilah pusat perhatian filsafat ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mempelajari tentang metode ilmiah (metodologi ilmu)[1].
           Filsafat ilmu pengetahuan adalah bagian atau  kerapkali disamakan dengan epistemologi. Sebagai salah satu cabang dalam ilmu filsafat, epistemologi bermaksud mengkaji dan mencoba menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari pengetahuan manusia.  Bagaimana saya tahu bahwa saya dapat tahu? Bagaimana pengetahuan itu pada dasarnya diperoleh dan diuji kebenarannya? Filsafat ilmu pengetahuan atau epistemologi bermaksud secara kritis mengkaji pengetahuan pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan serta mencoba memberi pertanggungjawaban rasional terhadap klaim kebenaran dan objektivitasnya. Maka, epistemologi merupakan suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normatif dan kritis[2].
           Selain membuat telaah cara kerja sains, filsafat ilmu pengetahuan kemudian juga merefleksikan secara kritis ciri-ciri hakiki sains beserta arti dan nilainya bagi kehidupan manusia secara keseluruhan. Sains dan teknologi sebagai wujud penerapannya, yang dalam masyarakat modern semakin menjadi bentuk pengetahuan yang dominan, dicoba untuk secara kritis dinilai dan ditempatkan dalam peta pengetahuan dan pemahaman menyeluruh tentang kenyataan[3].
           Apak maksudnya karakteristik atau sifat filsafat ilmu pengetahuan evaluatif, normatif dan kritis? Evaluatif berarti ia menilai apakah suatu keyakinan, sikap, pernyataan pendapat, teori pengetahuan dapat dibenarkan, dijamin kebenarannya atau memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar. Normatif berarti menentukan norma, tolok ukur, dan dalam hal ini tolok ukur kenalaran bagi kebenaran pengetahuan. Kritis berarti mempertanyakan dan menguji kenalaran cara maupun hasil kegiatan manusia mengetahui. Yang dipertanyakan adalah baik asumsi-asumsi, cara kerja atau pendekatan yang diambil, maupun kesimpulan yang ditarik dalam pelbagai kegiatan kognitif manusia.

b.      Dimensi filsafat ilmu pengetahuan
           Filsafat ilmu pengetahuan mencoba mengggambarkan bagaimana ilmu pengetahuan bekerja. Ilmu pengetahuan merupakan salah satu kegiatan komunal yang paling kompleks, jadi pantas ingin didalami dan dipertanyakan secara filosofis. Untuk menemukan cara kerja sains, dibutuhkan kerjasama  ilmuwan untuk menggambarkan cara kerja mereka. Tentu saja tidak semudah itu. Ada celah besar antara apa yang bisa dilakukan orang, dan apa yang bisa mereka gambarkan. Menjadi ilmuwan yang baik adalah satu hal, namun adalah sesuatu yang sangat berbeda untuk menjadi pandai memberikan gambaran umum (kajian) tentang apa yang dilakukan para ilmuwan. Ternyata sangat sulit untuk memberikan deskripsi umum yang benar tentang aspek paling sederhana penelitian ilmiah. Sebagai contoh, para filosof ilmu pengetahuan telah bekerja keras untuk memberikan penjelasan umum tentang perbedaan tiga bagian (tripartit) yang sederhana: data yang mendukung hipotesis, data yang menentangnya dan data yang tidak relevan.
           Peter Lipton dalam makalahnya melakukan kajian terkait dimensi filsafat ilmu pengetahuan berhadapan dengan para ilmuwan. Dimensi tersebut adalah dimensi deskriptif, dimensi normatif dan dimensi sikap para ilmuwan terhadap keberadaan filsafat ilmu pengetahuan [4].
           Dimensi deskriptif – upaya untuk menggambarkan kebenaran sains – sebagai karakteristik filosof ilmu pengetahuan tidak memadai. Pertama-tama, filosof ilmu pengetahuan harus benar-benar terlibat dalam rincian penelitian ilmiah. Misalnya, orang harus melihat beberapa pekerjaan teknis dasar-dasar fisika. Dalam keterlibatan itu, kerap ditemukan berbagai anomali dalam ilmu itu sendiri. Teori-teori ilmiah paling terkenal pun mungkin saja dapat membuat kesalahan prediksi, kurangnya ketelitian matematis, menghasilkan inkuitas atau singularitas, gagal menyesuaikan diri dengan teori-teori lain, atau menggunakan konsep-konsep yang tidak tepat, dan ini beserta kesulitan internal lainnya kerapkali menarik perhatian secara rinci bagi filosof.
           Dimensi kedua filsafat ilmu pengetahuan yaitu dimensi normatif. Para filosof secara adil sangat peduli dengan apa yang sudah ada, tetapi juga peduli tentang apa yang seharusnya ada. Ada sejumlah pertanyaan filsafat ilmu pengetahuan terkait penelitian ilmiah yang tepat: bagaimana penggunaan sumber daya ilmiah dan penerapan sains yang sah, bagaimana sains kerja dan apa yang dicapainya.

Sikap para ilmuwan terhadap fisafat ilmu pengetahuan     
           Selain dimensi di atas, Lipton juga membahas sikap-sikap para ilmuwan terhadap filsafat ilmu pengetahuan. Ada ilmuwan yang menyambut baik filsafat ilmu pengetahuan seperti Peter Medawar. Peter Medawar, ahli imunologi terkenal sangat menaruh minat terhadap filsafat ilmu pengetahuan. Medawar (1982) yang banyak dipengaruhi Karl Popper menulis secara luas, elegan, dan mendalam tentang metode ilmu pengetahuan. Medawar menjelaskan posisi dan argumennya melampaui Karl Popper sendiri[5].
           Tidak sedikit juga ilmuwan yang memusuhi filsafat ilmu pengetahuan. Para ilmuwan memusuhinya dengan beberapa alasan, antara lain: ia menyalahkan sains, ia tidak berguna, dan  ia merusak sains.
           Untuk alasan yang pertama, filsafat ilmu pengetahuan dipandang menyalahkan sains, ada benarnya. Kerapkali kajian atau deskripsi filosofis tentang ilmu pengetahuan amat dangkal dan primitif dibandingkan khasanah ilmu pengetahuan. Kajian filosofis tersebut secara serius salah menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi dalam komunitas ilmiah. Hal ini tidak mengejutkan, mengingat kompleksitas yang sangat besar dan keburaman (opacity) praktik ilmiah. Meskipun demikian, seharusnya kelemahan kajian filosofis tersebut tidak boleh dipandang harga mati, dan bukan alasan untuk meremehkan filsafat ilmu pengetahuan. Menurut Lipton, kelemahan kajian filsafat ilmu pengetahuan tersebut bukanlah asalan yang baik untuk menolak filsafat ilmu pengetahuan.
           Alasan keberatan kedua adalah filsafat ilmu pentahuan itu tidak berguna. Ada benarnya memang jika kriteria yang digunakan adalah agar filsafat ilmu pengetahuan secara langsung membantu meningkatkan praktik ilmiah. Banyak ilmuwan yang kecewa, karena filsafat ilmu pengetahuan tidak secara langsung membantu praktik ilmiah, terutama karena kelemahan catatan deskriptif tentang praktik ilmiah. Mungkin harus dibedakan antara “melakukan” dan “menggambarkan”. Seperti dikutip Lipton[6], bahwa Thomas Kuhn menekankan para ilmuwan dilatih dalam praktik mereka dengan mulai mengajarkan solusi masalah yang patut dicontoh di lapangan, bukan dengan memberikan aturan umum penelitian (Kuhn 1970).
           Alasan keberatan ketiga, lebih parah yaitu filsafat ilmu pengetahuan itu merusak. Mungkin salah satu titik berangkatnya adalah kelemaham kajian filsafat ilmu pengetahuan atas praktik ilmiah. Lebih jauh, ada yang khawatir bahwa seorang ilmuwan salah arah ketika mencoba melakukan penelitian dengan mengikuti beberapa prinsip kajian filosofis akan berisiko melemahkan praktik ilmiahnya.  Tanggapan yang benar di sini adalah bukanlah menolak filsafat ilmu pengetahuan, tetapi penerapannya yang salah.

Sikap para filosof ilmu pengetahuan
           Terhadap pandangan yang mengatakan filsafat ilmu pengetahuan tidak berguna, atau tidak membantu meningkatkan praktik ilmiah, ada dua sikap para filosof ilmu pengetahuan: sikap kompromi dan sikap tanpa kompromi. Yang bersikap kompromistis, mereka mengakui ada beberapa aspek filsafat ilmu pengetahuan yang sebenarnya benar dan bermanfaat bagi para ilmuwan. Mereka memberikan perhatian terhadap masalah-masalah filsafat ilmu pengetahuan yang dapat menguntungkan para ilmuwan.
           Namun bagi yang menolak tanpa kompromi, filsafat ilmu pengetahuan seharusnya tidak berguna. Seseorang dapat membenarkan keberadaan filsafat ilmu pengetahuan tanpa harus membantu meningkatkan perilaku ilmiah. Ilmu pengetahuan adalah bagian penting dalam kehidupan manusia, sehingga bermanfaat untuk mencoba memahami cara kerjanya, memahami dirinya sendiri, bukan demi utilitas yang diperlukan.
           Terkait sikap para ilmuwan terhadap filsafat ilmu pengetahuan, dua filosof ilmu pengetahuan abad ke-20, Karl Popper dan Thomas Kuhn memberikan pandangan dan kasus-kasus khusus yang mencerahkan dalam mempertimbangkan sikap ilmuwan.

Karl Popper (1902-1994)
           Karl Popper adalah seorang realis. Gagasan besarnya adalah kekuatan bukti negatif (the power of negative evidence). Titik dasarnya adalah, tidak ada jumlah, misalnya, angsa putih, yang dapat membuktikan bahwa semua angsa berwarna putih (karena mungkin selalu ada yang hitam, bersembunyi dalam kerumunan); satu angsa non-putih itu membantah hipotesis tersebut. Sekalipun setiap angsa, dari dulu, sekarang dan di masa depan, berwarna putih, pernyataan bahwa semua angsa itu putih pasti salah. Popper mempertahankan bahwa bukti positif tidak memiliki nilai probatif apa pun dan bahwa bukti negatif harus sering diberlakukan sebagai bukti penyangkalan. Terkait klaim ilmiah, itu hanya jika ada data yang mungkin bertentangan dengannya, dan penelitian ilmiah bertujuan menghasilkan hipotesis umum, kemudian berusaha menyanggahnya. 
           Penolakan Popper untuk memberi bobot pada bukti positif tampaknya tidak sesuai dengan realisme, karena jika tidak ada yang namanya bukti positif, maka tidak ada alasan untuk mengklaim hipotesis tertentu sebagai benar atau mendekati kebenaran. Namun Popper menemukan cara untuk mempertahankan versi realismenya yang agak heterodoks. Dia menegaskan bahwa tujuan sains adalah kebenaran dan dia berpendapat bahwa penelitian ilmiah dapat diperlihatkan sebagai aktivitas rasional untuk tujuan kebenaran.  Menurut Popper, kita tidak pernah memiliki alasan untuk mengatakan suatu teori itu benar, tapi masih ada teori-teori lain, di mana salah satu ari mereka telah terbantahkan, maka kita mempunyai alasan untuk memilih teori yang lain. Tentu saja, untuk sementara, teori pertama bisa salah, sedangkan yang kedua benar, jadi sangat rasional kemudian untuk memilih teori kedua, mengingat tujuannya adalah mencari kebenaran.
           Terkait dengan harapan ilmuwan dari filosof ilmu pengetahuan, Popper adalah salah satu filosof yang bisa memberikan resep. Resep utamanya adalah sangat sederhana: jangan mencari bukti yang mendukung hipotesis terbaru anda, tapi mencari lebih banyak bukti yang akan membantahnya. Saran Popper in tampaknya bermanfaat.

 Thomas Kuhn (1922-1996)
           Gagasan besarnya adalah pentingnya ‘paradigma’. Sayangnya, makna ‘paradigma’ agak kabur karena banyak digunakan dalam bidang lain. Namun istilah yang pengertian tentang dunia yang relatif jelas, yaitu ‘contoh’ (exemplar): suatu solusi masalah konkrit dalam sains yang memandu penelitian. Dalam dunia ilmiah, ada kecenderungan untuk setuju tentang teori dan data, melanjutkan penelitian dengan cara yang sama, mengikuti prosedur standar yang ditetapkan. Menurut Kuhn, komunitas ilmiah harus memberikan contoh dalam penelitiannya, bukan hanya aturan. Dalam konten, aturan dan contoh sangat berbeda: aturan pada dasarnya bersifat umum, sedangkan contoh adalah solusi masalah tertentu dalam spesialisasi tertentu. Namun dalam fungsinya, menurut Khun, contoh itu mirip aturan. “Contoh” yang diterima bersama menjelaskan langkah dalam penelitian bersama, karena peneliti akan menyelesaikan masalah baru, dengan belajar masalah yang mirip dari contoh tadi[7].
           Mekanisme ‘contoh’ Kuhn masuk akal. Karena setiap guru dan siswa sains harus tahu, fungsi dan seperangkat (set) masalah bukanlah untuk menguji tetapi untuk menanamkan pemahaman. Tidak dapat dipungkiri bahwa prestasi masa lalu dalam disiplin ilmu sangat mempengaruuhi pilihan peneliti atas masalah baru dan teknik yang digunakan dalam menyelesaikannya. Kuhn memanfaatkan mekanisme contoh ini dalam sosiologi, semantik dan metafisika sains. Secara sosiologis, ia menggunakan mekanisme contoh untuk membedakan berbagai periode perkembanan ilmiah. Suatu periode di mana komunitas ilmiah berbagi sekumpulan contoh dan dapat  menjalankan fungsinya dengan sukses –  disebut periode ilmu pengetahuan yang umum atau normal. Perilaku komuitas ilmiah terlihat sangat berbeda disebut periode ‘pra-paradigma’, masa sebelum ditemukannya mekanisme contoh yang efektif. Pada periode krisis tersebut, contoh-contoh terus memunculkan masalah tetapi berhenti mendukung solusi yang memadai, dan menurut Kuhn, selama periode revolusi ilmiah satu perangkat contoh dibuang untuk yang lain.
           Secara semantik, Kuhn berpendapat bahwa contoh yang digabungkan dengan struktur teori merupakan hal yang memberikan makna istilah-istilah baru yang diperkenalkan oleh teori ilmiah, sehingga sesudah revolusi ilmiah, perubahan dari teori dan mekanisme contoh, perubahan makna istilah  sangat luas, teori-teori yang bersaing ‘tidak dapat dibandingkan’. Klaim satu teori bahkan tidak dapat secara tepat dinyatakan dalam istilah lain, dan perbandingan antara teori-teori yang bersaing menjadi masalah yang jauh lebih rumit dan berantakan daripada yang secara tradisional seperti diduga oleh para filosof ilmu pengetahuan.
           Secara metafisik, ada klaim Kuhn terkenal, setelah revolusi ilmiah, “dunia berubah”. Apa artinya? Yang dimaksud Kuhn adalah tergantung pada proyeksi (projectivism) yang didukungnya, yaitu pandangan bahwa pokok bahasan sains bukanlah dunia yang sepenuhnya independen dari kita, tetapi hanya dunia yang terstruktur oleh kita. Dunia terstruktur dengan demikian adalah semacam produk gabungan hal-hal dalam dirinya dan aktivitas penataan deskripsi ilmiah.
           Ketika Kuhn mengatakan bahwa dunia berubah, klaimnya adalah bahwa dunia terstruktur ini – bukan hanya kepercayaan dan bukan dunia itu sendiri – yang berubah. Ini bukan pandangan aneh: karena dunia terstruktur sebagian didasari oleh kepercayaan ilmiah, perubahan radikal dalam kepercayaan bisa mengubah dunia. Ini merupakan klaim radikal, karena Kuhn menegaskan bahwa dunia yang berubah ini adalah satu-satunya yang dapat dijelaskan oleh sains. Dengan demikian Kuhn seperti Kant dalam mengandaikan bahwa pengetahuan kita hanya dapat meluas ke deskripsi dunia yang sebagian dibentuk oleh pengetahuan kita; di sisi lain Kant berpikir bahwa hanya ada satu bentuk yang dapat diambil sebagai kontribusi manusia terhadap dunia yang terstruktur ini. Kuhn berpendapat bahwa kontribusi tersebut berubah di sepanjang revolusi ilmiah (Lipton, 1264-1265).
           Para ilmuwan menanggapi Kuhn secara beragam. Di satu sisi, beberapa ilmuwan sosial terkesan dan melihat ada “paspor” menuju status lebih tinggi, sebagaiaman dinikmati para ilmuwan fisik. Menurut mereka, yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan paradigma. Menurut Kuhn, ilmu-ilmu sosial masih dalam priode pra-paradigma, dan hanya waktu yang menentukan, kapan berubah.
           Reaksi lain, reaksi bermusuhan datang dari para ilmuwan fisik. Para ilmuwan fisik melihat Kuhn sebagai salah satu yang merendahkan ilmu pengetahuan. Menurut Lipton, permusuhan ini didasari kesalahpahaman. Kuhn tentu saja tidak memberikan segala sesuatu yang ingin dimiliki oleh seorang pendukung realisme. Masih menurut Lipton, bukan kebetulan bahwa catatan Kuhn pada dasarnya internalis. Agar mekanisme contoh bekerja secara efektif, para ilmuwan harus bebas untuk memilih masalah mereka sendiri, dibimbing oleh “contoh-contoh”, daripada memiliki masalah yang dipaksakan dari luar. Kuhn sendiri mengakui hal ini di kesempatan lain, menunjukkan bahwa struktur penelitian harus berbeda dalam rekayasa, dimana masalah umumnya berasal dari sumber eksternal (Kuhn 1977).
           Kuhn juga tidak berpendapat bahwa ‘mungkin membuat benar’ dalam komunitas ilmiah. Aktivitas ilmiah tentu saja sangat dibatasi oleh dunia: data bukanlah apa pun yang anda inginkan. Memang bagi Kuhn, aktivitas sentral sains normal adalah upaya untuk menghadapi anomali teori ilmiah. Contoh, perbedaan antara ekspektasi teoritis dan hasil empiris. Itu bukan berarti bahwa Kuhn menyangkal tugas sains mendeskripsikan dunia. Itu merupakan pekerjaan sains, meskipun menurut Kuhn bahwa satu-satunya dunia yang dapat dideskripsikan adalah dunia yang sebagian terstruktur oleh para ilmuwan itu sendiri dan struktur-struktur itu telah berubah sepanjang sejarah.
           Bukan hanya para ilmuwan yang memusuhi Kuhn, tapi juga banyak filosof ilmu pengetahuan tidak setuju. Dalam banyak kasus, ketidaksetujuan ini didasarkan pada kesalahpahaman yang sama, yang memprovokasi para ilmuwan, meskipun itu jauh lebih umum sekarang daripada 20 tahun pertama setelah publikasi bukunya Structure of the Scientific Revolution (1970). Menurut Lipton, cukup umum di kalangan filosof ilmu pengetahuan yang menghubungkan Kuhn dengan pandangan tentang teori-teori bersaing tidak dapat dibandingkan, dan karenanya perubahan ilmiah merupakan kegiatan tidak rasional. Memang Kuhn sendiri secara eksplisit mengatakan bahwa teori-teori yang tidak dibandingkan bukan berarti tidak ada bandingannya, tetapi sebaliknya bahwa perbandingan itu, meskipun penting, tapi rumit dan terkadang tidak dapat disimpulkan. Kuhn juga mengatakan bahwa sains adalah model rasionalitas kognitif.
           Mesklipun demikian, tidak semua kritik filosofis terhadap Kuhn didasarkan pada kesalahpahaman. Sebagai contoh, seseorang dapat mendapat masukan penting dari Kuhn, misalnya mekanisme contoh, yang berguna dalam mengorganisir tradisi penelitian. Metodologi berbasis contoh cocok dengan realisme yaitu bahwa sains dapat menggambarkan aspek-aspek dunia sebagaimana ‘dalam dirinya sendiri’.

c.       Bagaimana hubungan filosof ilmu pengetahuan dengan para ilmuwan?
           Bagaimana hubungan antara para ilmuwan dan filsafat ilmu pengetahuan? Menurut Lipton, masalah hubungan mereka bukanlah bahwa para filosof ilmu pengetahuan menjatuhkan sains, juga bukan karena para filosof gagal memberikan kajian langsung dan praktis. Masalah sebenarnya adalah para filosof ilmu pengetahuan tidak pernah menyelesaikan argumen mereka sendiri dan argumennya tidak berdampak, membuat para ilmuwan agnostis. Sesungguhnya ada juga orang yang khawatir bahwa seandainya filsafat ilmu pengetahuan benar-benar berdampak bagi para ilmuwan, itu akan merusak komitmen dan keyakinan yang menjadi sandaran praktik para ilmuwan.
           Menurut Lipton, apa yang dibutuhkan sains adalah keandalan de facto metode yang digunakan, bukan pemahaman tentang cara kerja metode atau demosntrasi keandalan. Jika praktik-praktik ilmiah membawa kita kepada kebenaran, maka ia akan menghasilkan pengetahuan tentang dunia yang bebas pikiran juga tidak tergantung pada catatan filosofis atau pembenaran apapun, dan jika praktik-praktik itu tidak membawa kita kepada kebenaran, situasi itu tidak akan dibalik oleh filsafat.
           Menurut Lipton, filsafat ilmu pengetahuan itu bermanfaat bagi pada ilmuwan. Filsafat sains membantu mengungkapkan kemungkinan dalam praktik ilmiah seperti keharusan-keharusan dalam praktik ilmiah itu sendiri. Kuhn benar bahwa berbagai bentuk dogmatis jangka waktu terbatas penting bagi pengembangan ilmiah, tetapi ia (dan di sini Popper akan setuju) juga benar bahwa banyak kepastian memiliki masa berlaku yang terbatas.
          
d.      Mengapa perlu mempelajari epistemologi atau ilmu pengetahuan?
           Berangkat dari kontroversi para ilmuwan dan filosof, kita dapat mengambil catatan bahwa filsafat ilmu pengetahuan pada dasarnya bermanfaat dipelajari. Menurut A.M.W. Pranarko, seperti dikutip oleh Sudarminta, sekurang-kurangnya ada tiga alasan mengapa epistemologi atau filsafat ilmu pengetahuan perlu dipelajari, yaitu alasan perimbangan strategis, pertimbangan kebudayaan dan pertimbangan pendidikan[8].
           Berdasarkan pertimbangan strategis kajian epistemologis perlu karena pengetahuan sendiri merupakan hal yang secara strategis penting bagi manusia. Strategi berkenaan dengan bagaimana mengelola kekuasaan atau daya kekuatan yang ada sehingga tujuan tercapai. Pengetahuan pada dasarnya adalah kekuatan atau daya kekuatan, knowledge is power, sudah didengungkan sejak Francis Bacon (1561-1626).
           Alasan kedua, yakni berdasarkan pertimbangan kebudayaan. Penjelasan yang pokok adalah kenyataan bahwa pengetahuan merupakan salah satu unsur dasar kebudayaan. Memang kebudayaan mempunyai unsur-unsur penting lain seperti kemasyarakatan, sistem religi, sistem bahasa, sistem ekonomi, sistem teknologi, sistem symbol serta pemaknaannya dan lain sebagainya. Akan tetapi, pengetahuan memegangperan penting dalam kesemuanya itu. Pengetahuan dapat dikatakan merupakan penggerak kebudayaan. Revolusi pengetahuan membawa gejolak dalam perkembagnan kebudayaan.
           Alasan ketiga, mempelajari epistemologi sangat bermanfaat bagi pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar untuk membantu peserta didik mengembangakan pandangan hidup, sikap dan keterampilan hidup, tidak dapat lepas dari pengetahuan. Proses belajar-mengajar dalam konteks pendidikan selalu memuat unsur penyampaian pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. Pentingnya pengetahuan bagi pendidikan semakin ditegaskan mengingat betapa pengetahuan itu merupakan faktor strategis serta amat menentukan dalam perkembangan kebudayaan dan peradapan.

III.     Catatan dan tanggapan  Penutup
         Filsafat ilmu pengetahuan merupakan kajian filosofis bersifat evaluatif, normatif dan kritis terkait cara kerja ilmu pengetahuan dan kemajuan-kemajuan yang dicapainya. Tidak jarang, keberadaan filsafat ilmu pengetahuan menjadi kontroversial, karena sifatnyat tersebut. Tidak sedikit yang memusuhinya karena dianggap merusak dan merendahkan ilmu pengetahuan. Namun ada juga yang menerima filsafat ilmu pengetahuan yang ‘menyehatkan’ ilmu pengetahuan bagi kehidupan dunia dan alam semesta.
         Berangkat dari uraian pengertiannya, dimensi dan kontroversi di atas,  epistemologi atau filsafat ilmu pengetahuan  sebagai salah satu cabang disiplin ilmu filsafat masih tetap relevan dan aktual, mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat di era digital ini. Menurut kami, ilmu pengetahuan dan perkembangannya perlu dikaji secara evaluatif, normatif dapn kritis agar tidak merusak kemanusiaan dan lingkungan alam semesta, tetapi membawa kehidupan manusia dan lingkungan alam menjadi lebih sehat, baik dan bijaksana. Semoga.



DAFTAR PUSTAKA

Ladyman, James. Understanding Philosophy of Science. London: Routledge, 2002

Lipton, P. “The Truth about Science”. The Medawar Lecture 20014. Philosophical Transactions of Royal Society B 360 (2005): 1259-1269.

Sudarminta, J, Epistemologi Dasar. Pengantar Filsafat Pengetahuan, Kanisius: Yogyakarta, 2002


[1] Ladyman, James. Understanding Philosophy of Science. London: Routledge, 2002 Halaman 1-5.
[2] Sudarminta, J, Epistemologi Dasar. Pengantar Filsafat Pengetahuan, Kanisius: Yogyakarta, 2002, halaman 18
[3] Sudarminta, J, Ibid, halaman 3
[4] Lipton, P. “The Truth about Science”. The Medawar Lecture 20014, halaman 1259-1160
[5] Lipton, P. Ibid, Halaman 1260
[6] Lipton, P. Ibid, Halaman 1260
[7] Lipton, P. Ibid, Halaman 1264
[8] Sudarminta, J, Ibid Halaman 26
Powered By Blogger