Trima kasih mengunjungi blog kami!

Para pengunjung yth. semua isi blog ini ditulis atau disusun atas kemauan pribadi. Itu berarti blog ini berisi aneka pendapat, pemahaman, persepsi pribadi, dan pemikiran pribadi atas lingkungan kerja dan hidup sekitarnya. Harapan kami isi blog ini bermanfaat bagi pengunjung yang memerlukannya. Salam, GBU.

Selasa, Juli 23, 2019

Ambruknya Komunisme Internasional

foto: amazon.co.uk

Pengantar
Leninisme  merupakan tokoh kunci dalam sosok ideologis komunisme di seluruh dunia. Dalam perjalanan sejarahnya, komunisme bercita-cita untuk mewujudkan suatu masyarakat yang anggota-anggotanya sama-sama bebas, sama-sama sejahtera, sama-sama terhormat dan solider satu sama lain. Namun cita-cita ini runtuh akibat perilaku para penguasa komunis sendiri, yang tidak konsisten pada ideologi dan tidak mempunyai etika politik. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengapa komunisme runtuh. Pokok bahasan ini dipilih dengan maksud mengambil pelajaran berharga dari sejarah ambruknya komunisme. Pembahasan ini dimulai sejarah singkat pemikiran Karl Marx, Marxisme-Leninisme, mengapa komunisme internasional ambruk dan pelajaran berharga untuk jaman sekarang.

Dasar Pemikiran Karl Marx (1818-1883)[1]
Konteks dasar yang menentukan arah perkembangan (pemikiran) Karl Marx  sesudah menyelesaikan sekolah gymnasium adalah situasi politik represif di Prussia (negara yang menguasai sebagian besar Jerman Utara, salah satu dari puluhan negara berdaulat di tanah Jerman waktu itu) yang telah menghapus kembali hampir semua kebebasan yang diperjuangkan oleh rakyat dalam perang melawan Napoleon. Di Universitas Berlin, Marx segera terpesona pemikiran oleh filsafat Gerog Wilhelm Fridriech Hegel (1770-1831). Dari Hegel, ia mencari jawaban atas pertanyaan yang menggerakkannya: bagaimana membebaskan manusia dari penindasan sistem politik reaksioner (pemikiran tahap I)? Pemikiran Marx semakin berkembang setelah berkenalan dengan filsafat  Ludwig Feuerbah (1804-1872).  Sekarang Marx memaknai ciri reaksioner negara Prussia sebagai ungkapan keterasingan manusia dari dirinya sendiri (pemikiran tahap 2). Yang menjadi pertanyaan Marx adalah di mana ia harus mencari sumber keterasingan itu. Jawabannya ditemukan sesudah berjumpa dengan kaum sosialis radikal di Paris. Di Paris  Marx menjadi yakin bahwa keterasingan paling dasar berlangsung dalam proses pekerjaan manusia. Sebenarnya pekerjaan adalah kegiatan di mana manusia justru menemukan identitasnya, tetapi sistem hak milik pribadi kapitalis menjungkirbalikkan makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi. Melalui pekerjaan, manusia tidak menemukan, melainkan mengasingkan diri. Hal itu terjadi karena sistem hak milik pribadi membagi masyarakat ke dalam para pemilik modal dan para pekerja yang tereksploitasi. Manusia hanya dapat dibebaskan apabila hak milik pribadi atas alat-alat produksi dihapus melalui revolusi kaum buruh, dengan demikian, Marx sampai pada posisi pemikiran klasik sosialisme (pemikiran tahap 3).
Karena itu, Marx semakin memusatkan perhatiannya pada syarat-syarat penghapusan hak milik pribadi. Ia mengklaim bahwa sosialismenya adalah sosialisme ilmiah yang tidak hanya didorong oleh cita-cita moral, melainkan berdasarkan pengetahuan ilmiah tentang hukum-hukum perkembangan masyarakat . Dengan demikian pendekatan  Marx berubah dari yang bersifat murni filosofis menjadi semakin sosiologis. Sosialisme ilmiah itu disebut Marx sebagai “paham sejarah yang materialistis”: sejarah dimengerti sebagai dialektika antara perkembangan ekonomi di satu pihak dan struktur kelas-kelas sosial di pihak lain. Marx sampai pendapat yang akan menjadi dasar ajarannya, bahwa faktor yang menentukan sejarah bukanlah politik atau ideologi, melainkan ekonomi. Perkembangan dalam cara produksi lama-kelamaan  akan membuat struktur-struktur hak milik lama menjadi hambatan kemajuan. Dalam situasi ini akan timbul revolusi sosial yang melahirkan bentuk masyarakat yang lebih tinggi (pemikira tahap 4).
Persoalannya apakah pernah akan lahir masyarakat  di mana hak milik pribadi sama sekali terhapus? Jadi, apakah komunisme, masyarakat tanpa hak milik pribadi dan tanpa kelas-kelas sosial itu, pernah akan terwujud? Karena faktor yang menentukan perkembangan masyarakat adalah bidang ekonomi, pertanyaan itu harus dijawab melalui analisis dinamika ekonomi tertinggi, yang sudah dihasilkan oleh sejarah, kapitalisme. Itulah sebabnya, Marx makin lama makin memusatkan studinya pada ilmu ekonomi, khususnya ekonomi kapitalistis. Studi itu membawa Marx pada kesimpulan bahwa ekonomi kapitalisme niscaya akan menghasilkan kehancurannya sendiri, karena kapitalisme seluruhnya terarah pada keuntungan pemilik sebesar-besarnya, kapitalisme menghasilkan pengisapan manusia pekerja, dan karena itu, akan terjadi pertentangan kelas paling tajam.
Karena itu produksi kapitalisme semakin tidak terjual karena semakin tak terbeli oleh massa buruh yang sebenarnya membutuhkannya. Kontradiksi internal sistem produksi kapitalis itulah akhirnya niscaya akan melahirkan revolusi kelas buruh yang akan menghapus hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas (pemikiran tahap 5).
Pemikiran Marx mengalami tahap perkembangan dan kesinambungan. Para ahli mengelompokkan tahap 1-3 sebagai pemikiran Marx Muda, dan tahap 4 dan 5 sebagai pemikiran Marx tua.

Marxisme Leninisme dan Ideologi Komunisme[2]
Ajaran Karl Marx mempengaruhi Vladimir Ilyic Lenin (1870-1924). Lenin mempelajari dan merealisasikan ajaran dan gagaran Marx seturut pemahamannya dengan tujuan pembebasan kelompok tertindas. Dengan Lenin, ajaran Marx semakin banyak dibahas dan dipelajari di dunia internasional.
Belum lama Lenin meninggal, Josef Vissarionovich, alias Stalin (1878-1953) sudah membakukan ajaran-ajarannya sebagai “Leninisme”. Sebagai bagian Marxisme-Leninisme, Leninisme  dengan demikian menjadi unsur kunci dalam sosok ideologis komunisme di seluruh dunia. Tidak berlebihan dikatakan bahwa hanya karena “Leninisme”, Marxisme menjadi alat perjuangan sebagian besar dari gerakan-gerakan revolusioner abad ke-20. Karena Lenin juga, komunisme menjadi salah satu kekuatan politik yang paling ditakuti di abad ke-20.
Pertanyaan mengenai bagaimana sampai pemikiran seorang Lenin, yang mengerahkan seluruh hidupnya demi pembebasan kelas-kelas tertindas bisa menjadi bagian dari sebuah ideologi yang menjadi legitimasi beberapa kejahatan paling mengerikan dalam sejarah manusia.
Konsepsi Lenin tentang partai kader membuat pengertian kunci Marx (muda) tentang kesatuan antara teori dan praxis pada akarnya. Bagi Marx, pemikiran filosofis merupakan bagian dalam dialektika perjuangan yang memotori sejarah. Teori Marx bukan produk pemikiran orang pintaryang kemudian dipakai untuk mengarahkan perjuangan proletariat, melainkan ungkapan teoritis perjuangan itu sendiri. Apa yang nyata-nyata dirasakan proletariat dalam kedudukannya sebagai kelas tertindas, dirumuskan dalam dimensi teori oleh Karl Marx untuk dikembalikan ke proletariat yang mengenalnya sebagai ungkapan konsepsional realitasnya sendiri. “Tujuan dan tindakan historis proletariat (apa yang dirumuskan dalam teori Marx tentang sosialisme, buku Franz Magnis-Suseno) sudah digariskan secara indrawi, tak terbantah dalam situasi kehidupannya maupun dalam seluruh organisasi masyarakat borjuis sejarang” (seperti dikutip Franz Magnis-Suseno). Dalam konsepsi ini kesadaran proletariat tentang sosialisme hanya dapat, dan memang akan, tumbuh dari perjuangannya. Begitu kesadaran sosialis-revolusioneer dipisahkan dari perjuangan buruh sendiri dan menjadi sesuatu yang harus dipompakan ke dalamnya dari luar, seluruh gagasan inti Marx tentang emansipasi manusia menguap. Manusia tetap terasing dari dirinya sendiri, “kekuatan-kekuatan hakikatnya”  tetap “terpecah-belah” dan buruh, dari pada memiliki diri dan mengalami revolusi sosialis sebagai realisasi keutuhan dirinya, tetap tergantung dari kekuatan luarnya. Dari perspektif Marx muda, konsepsi Lenin menanamkan kembali di inti teorinya apa yang mau dihapus dengannya, yaitu ketergantungan dan ketertindasan baru.
Masalahnya tidak sesederhana itu. Marx sendiri tidak mempertahankan keterkaitan dialektis teorinya dengan praxis revolusionernya proletariat secara konsisten. Marx dalam obsesinya untuk membedakan pemikirannya dari apa yang disebutnya “sosialisme utopis”, semakin memahaminya sebagai teori “ilmiah”. Sosialismenya adalah “sosialisme ilmiah”, hasil penemuannya tentang hukum-hukum perkembangan masyarakat objektif, yang oleh Friedrich Engels (1820-1938), dengan persetujuan Marx sendiri, diperbandingkan dengan teori evolusi Charles Darwin. Teori objektif  semacam itu tidak mempunyai kaitan internal dengan perjuangan kelas. Menurut Jurgen Habermas, Marx jatuh ke dalam “salah paham positivistik” terhadap teorinya sendiri. Akhirnya, “materiaslieme sejarah”, nama resmi teori Marx, menjadi “pandangan dunia ilmiah proletariat”. Teori itu bukan lagi teori proletariat sendiri, melainkan “demi proletariat” yang lalu harus disosialisasikan dulu ke dalamnya.
Dalam kenyataan, seluruh Marxisme pasca-Marx, dan bukan hanya Lenin, sama sekali lupa akan konsepsi Marx muda. Penegasan Marx tentang kaitan antara teori tentang revolusi sosialis dan perjuangan praktis proletariat sudah lama ditinggalkan. Pengertian Marxisme sebagai “teori yang sudah benar tentang hukum-hukum perkembangan kapitalisme” pada akhir  abad ke-19 menimbulkan perbedaan serius di kalangan kaumm Marxis: Bagaimana kenyataan yang semakin tidak terbantah ini harus dijelaskan, yaitu bahwa kapitalisme dunia bukannya semakin rapuh sebagaimana diramalkan oleh Marxisme, melainkan semakin jaya. Berhadapan dengan masalah ini muncul berbagai posisi. Salah satu posisi tersebut adalah Lenin. Lenin yang sependapat dengan  Luxemburg bahwa tidak ada revolusi tanpa kesadaran revolusioner kelas buruh, tetapi menyangkal anggapan Luxemburg bahwa kesadaran revolusioner kaum buruh akan berkembang secara spontan sebagai naif. Dengan sendirinya kelas buruh tidak bisa melampuai “kesadaran serikat buruh”. Hanya di bawah pimpinan sebuah partai kader revolusioner kelas buruh dapat membentuk kesadaran teoritis benar yang akan membuat mereka melaksanakan revolusi sosialis. Bertolak dari perlunya revolusi, Lenin menggagaskan sebuah partai  revolusioner yang bertugas menggiring kaum buruh yang sebenarnya, tidak revolusioner. Bagi Lenin, revolusi bukan lagi hal yang tak terelakkan, revolusi tergantung dari adanya kehendak revolusioner. Karena itu, Marxisme Lenin bersifat voluntaristik. Lenin menghendaki revolusi. Konsepsi Lenin yang sangat jauh dari Karl Marx ini akhirnya mendai kenyataan dalam sejarah dan ia menjadi bidan Komunisme.
Penyimpangan lainnya dari ajaran Karl Marx adalah soal kediktatoran proletariat. Marx tidak pernah memikirkan kediktatoran proletariat sebagai keadaan semi permanen yang bisa berjalan selama berpuluh-puluh tahun sebagaimana diantisipasi Lenin. Pengandaian Marx dan Lenin sama sekali berbeda. Menurut Marx, revolusi sosialis baru mungkin dilaksanakan apabila bagian terbesar masyarakat terdiri dari proletariat  yang berhadapat dengan segelintir pemilik modal. Proletariat memang untuk sementara waktu harus menjalankan kediktatoran keras untuk menindas usaha dari sisa-sisa kaum kapitalis untuk bangkit sekali lagi. Tetapi, begitu usaha itu ditumpas, masyarakat yang seluruhnya terdiri atas pekerja tidak mempunyai “musuh kelas” lagi dan karena itu aparat penindas negara tidak diperlukan lagi.
Situasi Lenin sama sekali lain. Di Rusia, kelas buruh industry yang merebut kekuasaan dalam Revolusi Oktober merupakan minoritas kecil di antara kelas-kelas lain (kelas tani, borjuasi, dan kaum feudal). Kelas-kelas itu, mayoritas besar bangsa Rusia, menentang mati-matian monopoli kekuasaan Bolshevik dan pemaksaan sosialisme. Jelaslah dalam situasi itu hanyalah penindasan tanpa ampun, kediktatoran tanpa kompromi, yang dapat menyelamatkan sosialisme. Hanya dengan menindas segala perlawanan dan melalui tindakan-tindakan dikatoris, sosialisme akan dapat dibangun dan kelas-kelas yang berbeda lama kelamaan dileburkan menjadi satu kelas pekerja. Mengingat keterbelakangan Rusia, pembangunan sosialisme, dan karena itu kediktatoran proletariat yang dilaksanakan partai komunis, akann berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya.
Argumentasi ini tidak dapat dibantah. Yang menjadi masalah adalah apakah masuk akal memaksanakan sosialisme apabila prasyarat yang dianggap menentukan oleh Marx, yaitu proletarisasi seluruh masyarakat, sama seali belum terwujud? Itulah sudut balik voluntarisme Lenin yang menggantikan dialetika keharusan sejarah dengan tekad revolusioner partai. Kesalahan Lenin adalah memaksakan sosialisme dalam situasi dimana sebagian besar masyarakat belum siap.
Komunisme Internasional
Pada tahun 1919 di Moskow didirikan KOMINTERN, Internasionale Komunis”, dengan tujuan untuk memperjuangakan “dengan segala cara yang tersedia, termasuk kekuatan bersenjata, penggulingan borjuasi internasional dan penciptaan republik Soviet internasional sebagai transisi ke tahap penghapusan total negara. Komintern mengorordinasikan kebijakan komunis di seluruh dunia. Moskow menjadi pusat komunisme inter nasional. Uni Soviet menjadi tanah air sosialisme radikal, menjadi tempat dan sumber arahan dan bantuan.

Pragmatisme Kekuasaan[3]
Para tokoh ajaran komunisme, seperti Lenin, Trotsky, dan semua tokoh Bolshevik, dan kemudian semua penguasa partai komunisme sadar betul bahwa revolusi tidak bisa lahir secara spontan dalam rangka  penghacuran kaum kapitalis. Oleh karena itu, fokus mereka akhirnya selalu tertuju pada kekuasaan. Demi sosialisme yang diyakininya, akhirnya Lenin, hanya mengenal satu sasaran: merebut kekuasaan dan pemakaiannya untuk memaksakan  pembentukan masyarakat sosialis. Akibatnya, ideologi komunisme pun, apalagi sesudah pembakuannya oleh Stalin, merosot menjadi sarana untuk membenarkan kekuasaan total di tangan pimpinan partai komunis. Cita-cita sosialis merosot menjadi pragmatisme kekuasaan.
Demi sosialisme, perbuatan apapun dapat dibenarkan. Upaya menciptakan sosialisme diserahkan kepada partai sebagai pelaksana. Melalui tangan besinya, partai boleh menumpas semua perlawanan dan memaksa semua buruh  untuk menerima kebijakan-kebijakan partai. Prinsip legitimasi mereka adalah membenarkan segala perbuatan apapun demi kemantapan kekuasaan di tangan komunis.

Tanpa Moralitas, Hukum dan Penghormatan HAM
Pragmatisme kekuasaan Leninistik ini dengan sendirinya menyingkirkan kemungkinan untuk mengadakan pertimbangan etis atau moral. Marxisme ortodoks, sesuai pemikiran Marx dan Hegel, memang selalu  meremehkan moral sebagai tipuan ideologis. Pragmatisme kekuasaan ini semakin menyingkirkan pertimbangan moral maupun etika. Pragmatisme kekuasaan menjadi tempat persemayaman benih-benih totalitarianisme. Karena itu partai meremehkan jatuhnya korban demi “membangun sosialisme”: darah ditumpahkan, pengritik dikubur dalam kam-kam kerja, proses hukum dikesampingkan, pertanggungjawaban demokratis dan hormat terhadap hak-hak asasi manusia ditertawakan.
Bagi partai komunis, stabilitas kekuasaan tidak bisa diganggu. Mengkritik kediktatoran aparat partai dengan mengacu pada moralitas dan bahkan cita-cita Marxisme sendiri mengancam stabilitas kekuasaan partai, dan karena itu harus ditindas. Itulah juga sebabnya, sampai pada tahun 1970-an, partai-partai komunis melarang semua diskurus-diskursus dalam partai tentang Marxisme.  Pemikir-pemikir Marxisme Leninis, seperti Lukaks, Korsch, dan Tan Malaka tidak bisa dibiarkan.
Dalam kurun waktu hanya 74 tahun, dari revolusi Oktober sampai 1991, rezim-rezim komunis sedunia membunuh sekurang-kurangnya 60 juta orang, suatu angka yang mengerikan. Angka ini berlum termasuk jumlah sekitar 65 juta orang terbunuh selama perjuangan Komunis di Tiongkok.

Sosialisme Eropa Melepaskan Marxisme
Akibat dari cara-cara  partai komunis yant tidak manusiawi tersebut, mayoritas kaum sosialis di Eropa menolak kekerasan dan teror. Bagi sosialis Eropa, pada hakekatnya sosialieme merupakan sesuatu yang etis dan karena itu, sosialisme hanya dapat diperjuangkan dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntutan etika dan kemanusiaan. Lama-kelamaan, sosialisme  Eropa melepaskan Marxisme sebagai ideologi  perjuangan dan menggantikannya dengan sosialisme demokratis. Perkembangan ini dianggap sebagai kemenangan revisionism. Karl Kautsky dan banyak tokoh-tokoh ortodoks ajaran Marx lainnya menolak kebijakan terror Lenin.
            Sampai tahun 1975, kekuasaan komunis memuncak. Sepertiga umat manusia hidup dalam negara-negara yang dikuasai oleh partai Komunis. Pada tahun yang sama, tahun ini juga  sekaligus merupakan titik balik. Persatuan dunia komunis mulai retak. Pada tahun 1989, akhirnya komunisme internasional berakhir. Rezim-rezim komunis di Eropa  Timur kolaps, partai-partai komunis melepaskan kekuasaan, dan terbukalah pintu untuk demokrasi. Dengan sendirinya Pakta Warsawa (aliansi negara Komunis/blok Timur, pimpinan Uni Soviet,  sebagai tandingan NATO dan SEATO (blok Barat, pimpinan Amerika Serikat) ambruk.
Pada akhir tahun 1991, Uni Soviet, negara adikuasa kedua, pecah menjadi 14 Republik independen. Hanya di Cina, Korea Utara, Vietnam, Laos dan Kuba rezim-rezim komunis masih berhasil berpegang pada kekuasaan. Namun mereka pun berhadapan dengan pilihan dilematis: mengubah perekonomian menjadi ekonomi pasar  dan dengan demikian melepaskan sosialisme, atau ketinggalan zaman mirip fosil dari Jurassik Park.

Penutup
            Pragmatisme kekuasaan  yang menggunakan segala cara dan kediktatoran melalui Partai Komunis (baik pada tingkat nasional maupun tingkat internasional) demi mewujudkan sosialisme  yang dicita-citakan sejak awal, terbukti tidak berhasil karena mengabaikan ideologi, etika, penghormatan hak asasi manusia serta kesejahteraan masyarakat. Pelajaran berharga bagi penguasa-penguasa dan politisi jaman sekarang adalah bahwa suatu ideologi hanya dapat dan mungkin berhasil diwujudkan bila sistem kekuasaannya diterima dan dibenarkan oleh masyarakatnya.


DAFTAR PUSTAKA

Magnis-Suseno, Franz, 1999, Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: Gramedia
---------------------------, 2003, Dalam Bayang-Bayang Lenin, Enam Pemikiran Marxisme Dari Lenin sampai Tan Malaka, Jakarta: Gramedia
----------------------------, 2013, Dari Mao ke Marcuse, Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, Jakarta: Gramedia


[1] Pemikiran Marx diambil dari Buku Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx, Gramedia: Jakarta, 1999, halaman 8-11.
[2] Diambil dari buku Franz Magnis-Suseno, Dalam Bayang-Bayang Lenin, Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka, Gramedia, Jakarta: 2003, Hl. 42-50.
[3] Referensi dari buku Diambil dari buku Franz Magnis-Suseno, Dalam Bayang-Bayang Lenin, Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka, Gramedia, Jakarta: 2003, Halaman. 234-238.
Powered By Blogger