Trima kasih mengunjungi blog kami!

Para pengunjung yth. semua isi blog ini ditulis atau disusun atas kemauan pribadi. Itu berarti blog ini berisi aneka pendapat, pemahaman, persepsi pribadi, dan pemikiran pribadi atas lingkungan kerja dan hidup sekitarnya. Harapan kami isi blog ini bermanfaat bagi pengunjung yang memerlukannya. Salam, GBU.
Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juni 22, 2017

Teladan Jokowi dan Pembangunan Karakter Bangsa


Oleh Pormadi Simbolon

Akhir-akhir ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam setiap kesempatan mengatakan bahwa masyarakaat butuh tauladan dan ia mengajak masyarakat untuk kembali ke jati diri bangsa (karakter) yaitu sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong-royong dan toleran (akun facebook Presiden Joko Widodo). Karakter tersebut merupakan modal yang seharusnya dapat membuat rakyat sejahtera. Namun karakter ini sudah mulai berubah (Kompas.com, 17/10/2014).

Perubahan karakter bangsa tersebut, kata Jokowi, merupakan akar dari munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja tidak baik, bobroknya birokrasi, hingga ketidakdisiplinan. Kondisi itu dibiarkan selama bertahun-tahun dan pada akhirnya hadir di setiap sendi bangsa. Jokowi juga pernah mengusulkan agar karakter ini harus dikembalikan melalui jargon Revolusi Mental-nya.

Menjelang hampir 72 tahun Indonesia merdeka, karakter negatif tersebut masih bercokol dalam sebagian oknum pejabat negara/ penyelenggara negara. Yang lebih parah lagi, banyak pejabat pemerintah sibuk memikirkan urusan kedudukan, kursi, dan berkutat dalam perebutan kekuasaan dengan menghembuskan isu komunis ke Istana.

Karakter Manusia Indonesia

Dari kenyataan yang ada, Jokowi mengamini pernyataan Mochtar Lubis yang menyebut enam ciri manusia Indonesia yang mesti dihilangkan. Hal itu dikatakan Jokowi dalam Simposium Nasional II, "Jalan Perubahan untuk Indonesia Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian 2014-2019" di Yogyakarta, (Tempo.co. Selasa,19 Agustus 2014)

Adapun keenam ciri manusia yang diakui Jokowi pernah disampaikan Mochtar Lubis saat berpidato di Taman Ismail Marzuki pada 16 April 1977. Saat itu Mochtar Lubis menyampaikan pidato berjudul "Manusia Indonesia". Pidato tersebut menggariskan enam ciri manusia versi Mochtar Lubis, yakni munafik atau hiporkrit, enggan dan segan bertanggung jawab, bersikap dan berperilaku feodal, percaya tahayul, artistik (berbakat seni), dan lemah watak atau karakter.

Kalau sifat atau karakter itu masih melekat akan sulit membangun kemandirian bangsa. Tulisan ini menyoroti bagaimana cara pembentukan kembali karakter bangsa yang harus dimulai dari masa usia dini.

Sejak Usia Dini

Menurut Psikologi kepribadian, bahwa pembentukan dan pertumbuhankembangan kepribadian anak dipengaruhi oleh 3 faktor dalam diri manusia yaitu faktor organ-biologik (genetic behaviour), faktor sosial-budaya (core value and attitude) dan faktor psiko-edukatif (learned behaviour).

Pembentukan kepribadian manusia 55% dipengaruhi faktor organ-biologik yaitu pentingnya kesehatan fisik atau gizi yang baik bagi masa pertumbuhan anak sejak usia dini; 20% dipengaruhi faktor sosial budaya yaitu soal nilai, moral/etika, kebajikan, dan sikap yang direkam selama masa anak-anak; dan 25% dipengaruhi faktor psiko-edukatif yaitu cara berbuat/bertindak yang dipelajari lewat pembelajaran baik formal maupun non formal. Ketiga faktor ini sangat mendasar dalam pertumbuhkembangan diri anak-anak di tengah keluarga, sekolah dan masyarakat.

Melalui faktor kesehatan fisik, faktor lingkungan sosialnya, dan perbuatan yang dipelajari, seorang anak bertumbuhkembang menjadi insan berkarakter. Pertumbuhkembangan diri dan proses pembentukan karakter anak-anak diawali dari tahap obrservasi terhadap nilai-nilai yang diperankan dan ditampilkan orang tua/ orang-orang di sekitarnya, kemudian anak memasuki tahap meniru (imitasi) secara berulang, lalu sedikit demi sedikit, apa yang ditiru dapat menjadi kebiasaan anak-anak, lalu terus menerus dipraktekkan hingga terbentuk menjadi sifat dalam diri anak-anak, lalu pada akhirnya bisa menjadi karakter karena sifat-sifat tersebut terjadi berulang-ulang dan menonjol dalam setiap waktu dan kondisi.

Sifat yang sangat menonjol dan sudah menjadi bagian dari pola pikir, pola rasa dan pola laku seseorang itulah yang disebut karakternya. Hal itu terbentuk dalam diri anak karena belajar dengan mengobsertasi dan mencontoh “teladan” orang-orang dewasa yang di sekitar anak-anak, bisa keluarga, sekolah dan masyarakat. Karakter ramah, gotong-royong, dan sopan santun terhadap orang lebih tua selama ini dikenal sebagai karakter orang Timur, karena sejak kecil sudah dibiasakan dan mendarah-daging.

Teladan Joko Widodo

Kita masih ingat dengan keunikan Joko Widodo terjadi di ruang Hall D2 JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, pukul 10.50 WIB, Rabu (17/10/2012). Jokowi, spontan mengangkat gong dan memindahkannya ke posisi yang pas. Jokowi mengatur posisi gong itu, bersama Gita Wirjawan. Jokowi semula memegang tiang gong di bagian tengah, lalu berpindah ke sisi pinggir. Dia melakukannya sembari tersenyum lebar. Gita Wirjawan yang berbadan tinggi besar juga memegang gantungan gong di posisi lainnya. Gong ini digeser agak ke belakang. Keduanya mengangkat-angkat peranti gong itu ke posisi yang memudahkan SBY untuk memukul. Gong itu hendak dipukul Presiden SBY sesudah berpidato membuka Trade Expo Indonesia ke-27.

Menurut penulis, sifat atau karakter cekatan melayani dan tanggap terhadap situasi dan mengambil tindakan yang tepat secara spontan merupakan karakter Jokowi yang terbentuk sejak masa kecil dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.

Dewasa ini karakter semacam itu amat sulit ditemukan pada tataran pejabat. Pejabat biasanya langsung meminta ajudan atau staf untuk melakukan aksi seperti yang dilakukan Jokowi.

Pada peristiwa lain, ada kejadian menarik pada orang nomor satu di negeri ini, Jokowi. Saat itu, Presiden Jokowi mengundang para kyai dan ulama ke Istana Negara, Kamis (10/11/2016). Jokowi spontan melayani para tamu dengan memberikan piring saat hendak mengambil santap siang. Menurut penulis, ini merupakan karakter melayani dan menghargai rakyat.

Kejadian seperti ini sulit ditemukan pada pejabat-pejabat penting di republik ini. Sesudah melayani, dan makan siang antara presiden dan para kyai dan ulama lalu duduk lesehan di Istana Negara dalam suasana santai dan menyenangkan.

Sifat melayani dan memperlakukan orang lain dihargai merupakan karakter yang direkam dari masa kecil melalui pola rasa, pola pikir dan pola laku yang ada di lingkungannya.

Lalu bagaimana mengemballikan karakter Indonesia (berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, beriman dan bertakwa kepada Tuhan, dan bergotong-royong) yang mulai memudar?

Dalam sembilan agenda prioritas (Nawa Cita) dalam visi-misi Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) terdapat satu prioritas yang terkait langsung dengan pembangunan karakter bangsa. Program tersebut adalah upaya melakukan revolusi karakter bangsa. Jokowi-JK berjanji melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan (civic education), yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan seperti: pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme, dan cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam pendidikan Indonesia.

Sudah lebih dua setengah tahun masa pemerintah Jokowi-JK, bahkan sejak masa pemerintah SBY, pembentukan karakter bangsa ini sudah digaungkan, namun belum terlihat secara signifikan. Para pembantu Presiden dari pUsat hingga daerah sebagai leading sector pembentukan karakter bangsa harus memulai dari lingkungan pemerintah dan keluarganya. Para pembantu presiden seyogiyanya yang pertama menyelamatkan lingkungan pendidikan, keluarga dan masyarakat Indonesia dari bibit bibit intoleransi dan radikalisme yang pada akhirnya bisa memecah kesatuan dan yang mengancam kerukukan hidup bersama.

Harapannya, para pembantu Presiden dari tingkat tertinggi hingga terendah bisa menangkap keteladanan pribadi Jokowi dan pesan jargon Revolusi Mentalnya, melalui penjabaran program Nawa CIta Jokowi-JK. Para Menteri terkait perlu mendalami dan merealisasikan program pembangunan dan pembentukan karakter bangsa mulai dari pendidikan tingkat terendah hingga pada perguruan tinggi. Semua pihak harus berpartisipasi mengkondisikan lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat bagi kondusifnya pembentukan karakter positif yang menjadi jati diri bangsa Indonesia. Semoga.

Selamat Ulang Tahun Kelahiran ke-56 Presiden Jokowi!

Penulis, rakyat biasa, alumnus STF Widyasasana Malang, tinggal di Tangerang



Rabu, Mei 30, 2012

Menguatkan Budaya dan Karakter Bangsa


Pendahuluan
Pohon bertumbuh dengan karakternya 
Persoalan karakter bangsa dewasa ini menjadi sorotan tajam masyarakat. Pendidikan karakter bangsa semakin jauh dari semangat nilai-nilai agama, Pancasila, dan kebangsaan. Sorotan itu mengenai berbagai aspek kehidupan,  tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dialog, dan gelar wicara di media elektronik.  Persoalan yang muncul di tengah masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif dan sebagainya dinilai sebagai akibat makin ditinggalkannya nilai-nilai agama, budaya dan Pancasila. Persoalan tersebut marak dan menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar, dan di berbagai kesempatan. Solusi yang ditawarkan adalah peraturan, undang-undang, peningkatan dan penegakan hukum yang lebih tegas.

Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi masalah karakter bangsa yang dibincangkan itu adalah melalui pendidikan, termasuk pendidikan agama dan pendidikan keagamaan.  Pendidikan agama merupakan salah satu upaya preventif dan dianggap dapat mengembangkan kualitas generasi muda dewasa ini.

Pengertian
Apakah karakter itu?  Dalam kamus filsafat (Lorens Bagus, 2002), salah satu pengertian karakter disebutkan sebagai “nama dari sejumlah ciri pribadi yang meliputi hal-hal seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola pemikiran.

Pengertian lain, karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma seperti: jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa.

Ada orang menggambarkan bahwa makna karakter sebagai sikap menunjukkan kejujuran dan berani bicara sesuai kenyataan, menepati janji dan tidak membocorkan rahasia dan bertindak konsisten, satunya kata dan perbuatan. Dengan demikian karakter adalah sebuah pilihan. Kita menciptakan karakter setiap kali kita  membuat pilihan: menghadapi atau menghindari sesuatu yang sulit; membelokkan kebenaran atau teguh mendukungnya, mengambil jalan pintas atau membayar harganya.

Dari pengertian dan gambaran tersebut dapat kita simpulkan bahwa karakter adalah watak pribadi seseorang yang terbentuk dalam lingkungan hidupnya, termasuk budayanya. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter  individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan. Artinya pengembangan budaya dan karakter bangsa  hanya dapat dilakukan dalam suatu proses hidup yang tidak melepaskan individu dari lingkungan sosial, budaya, masyarakat dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa  kita adalah Pancasila. Jadi, pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain, mengembangkan budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri individu melalui pendidikan hati, otak fisik.

Landasan Pembangunan Karakter Bangsa
Berangkat dari pengertian karakter di atas, landasan pembangunan karakter bangsa di tegaskan dalam UUD 1945 dan UU Sisdiknas. Hal ini disebutkan bahwa tujuan pembangunan bangsa dan fungsi  utama pendidikan yaitu “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban  bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.    Pendidikan tersebut bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Inilah landasan untuk membangun budaya dan karakter bangsa berdasarkan Pancasila.

Sumber nilai-nilai yang menjadi karakter bangsa
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.  Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma seperti: jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Nilai-nilai  tersebut dapat diidentifikasi dari berbagai sumber, antara lain:

Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar perimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas dasar prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Nilai-nilai Pancasila secara global adalah: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah/demokratis dan keadilan sosial. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan individu/peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga yang memiliki kemampuan dan kemauan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

Budaya: tidak ada manusia yang hidup tanpa budaya dan nilai-nilainya yang mempengaruhi kehidupannya. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakatnya. Posisi budaya demikian penting dalam kehdupan masyarakat dan menjadi sumber bilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Karakter-karakter  bangsa yang harus dikembangkan
Beberapa nilai-nilai yang diidentifikasi (Kemdiknas, 2010) dari berbagai sumber tersebut untuk dijadikan sebagai karakter bangsa adalah: sikap dan perilaku religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.



Nilai-nilai ini harus dikembangkan dan dijadikan karakter tidak hanya di sekolah, namun juga dalam keluarga, lingkungan (Kampung, RT, RW, kelurahan), nasional dan internasional. Perwujudan nilai-nilai ini menjadi tanggung jawab semua, pemerintah, dan masyarakat.

Kita mungkin perlu belajar dari bangsa Korea. Korea menjadi bangsa yang kuat dan makmur karena setiap warga negaranya dididik secara sistematis untuk berppikir ke depan (visioner), memiliki etos kerja keras yang tinggi,, dan selalu berjuang.

Dulu Korea, masih dalam kondisi miskin, terpuruk, dan terjajah. Namun sekarang, negara itu bangkit dan maju menjadi negara maju dan ekspansif karena setiap generasi mudanya diberikan pendidikan karakter  (kerja keras dan pantang menyerah) yang berpijak pada sejarah perjuangan Korea melawan penjajah. Korea adalah bangsa cerdas, unggul dan berdaulat. Indonesia, kapan? Kita menantikan hasil dari upaya yang sedang berjalan yaitu pengembangan pendidikan budaya dan karakter.

Membangun karakter  melalui pendidikan
Dewasa ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang gencarnya menggemakan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Hal ini amat tepat dan sesuai dengan amanat UU RI nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengenai fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Pasal 3 UU Sisdiknas mengatakan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan  bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Rumusan tujuan pendidikan nasional ini merupakan rumusan kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan dalam setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan ini menjadi dasar dalam pengembangan budaya dan karakter bangsa.

Pembangunan budaya dan karakter bangsa melalui pendidikan tidak boleh lepas dari rumusan tujuan pendidikan nasional.  Tujuan pendidikan nasional tersebut harus dikembangkan di berbagai jenjang dan jalur oleh setiap satuan pendidikan, mulai dari tingkat PAUD, TK, SD,  hingga pendidikan tinggi.


Penutup
Pembangunan budaya dan karakter bangsa berdasarkan nilai-nilai agama, Pancasila dan budaya, demikian penting melihat situasi dan kondisi bangsa Indonesia yang masih belum maju di berbagai bidang, khususnya di bidang tata hidup bersama. Hal ini penting untuk mengatasi, atau sekurang-kurangnya untuk mengurangi cacat cela, korupsi, kekerasan berbau SARA, kemunafikan, kemerosotran moral dan kejahatan kolektif.
Semoga.

Senin, Oktober 11, 2010

HIDUP ITU PERJUANGAN


Hidup itu butuh kerjakeras. Tak pernah berhenti. Kita berjuang untuk hidup. Maka dibutuhkan ketenangan, kesehatan, kesopanan, kejujuran, denga sikap-sikap dan karakter berani, asketis, tidak gembar-gembor, hemat, rajin, disiplin dan komunikasi. Sikap dan karakter ini yang harus dipegang bila ingin berhasil dalam hidup.

Banyak orang-orang besar sukses karena mempraktekkan sikap-sikap dan karakter di atas. Contohnya Bung Karno, Hatta, Agus Salim dan lain-lain. Sikap dan karakter tersebut harus dimulai sejak masa usia dini, dalam keluarga.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, November 17, 2007

13 PELAJARAN BERHARGA DARI BENJAMIN RANKLIN

13 PELAJARAN BERHARGA DARI BENJAMIN RANKLIN

Benjamin Franklin adalah mantan presiden Amerika Serikat. Ia berhasil menjadi negarawan berkat semangat perjuangannya untuk menjadi insan berguna bagi negara, sesama dan tentu keluarga serta diri sendiri. Ia tidak sempat mengecap pendidikan tinggi. namun berkat belajar otodidaknya (sekarang ada istilah homeschooling) ia berhasil menjadi pemimpin negara besar seperti Amerika Serikat.

Belajar otodidaknya tidak berlaku hanya untuk soal-soal pelajaran, tetapi juga soal “pelajaran” self formation atau pembentukan diri sendiri, sehingga ia menjadi insan berhasil di jamannya. Ada 13 hal pelajaran atau prinsip dalam pembentukan dirinya itu adalah keugaharian, diam, tertib teratur, keteguhan hati, hemat, rajin, kejujuran, keadilan moderat, kebersihan, ketengangan, kemurnian,dan kerendahan hati. Semuanya dicoba dalam praktek, dievaluasi dan dicoba lagi ketika gagal sampai ia berhasil mengendalikan dirinya.

1. KEUGAHARIAN.
Jangan makan dan minum terlalu banyak.

2. DIAM.
Bicaralah tentang hanya yang bermanfaat bagi orang lain, hindarilah omongkosong.

3. TERTIB TERATUR.
Letakkan hal dan barang anda di kedudukan dan tempatnya masing-masing. Bagi setiap unsur dari urusan anda, berilah waktunya sendiri-sendiri.

4. KETEGUHAN HATI.
Bersikaplah teguh untuk melaksanakan apa yang seyogiyanya anda lakukan. Laksanakanlah apa yang telah anda putuskan, jangan sampai gagal.

5. HEMAT.
Jangan mengeluarkan biaya selain untuk hal-hal yang baik bagi orang lain dan diri sendiri. Jangan menyia-nyiakan apapun.

6. RAJIN
Jangan ada waktu yang kosong. Selalulah mengerjakan sesuatu yang berguna. Hentikan tindakan-tindakan yang tiada gunanya.

7. KEJUJURAN
Jangan mempergunakan tipu muslihat yang menyakitkan hati. Berpikitlah bersih dan adil. Kalau anda berbicara, berbicaralah yang benar.

8. KEADILAN
Jangan menyalahkan orang lain dengan melakukan sesuatu yang tidak adil atau dengan melalakan hal-hal yang merupakan kewajibannya.

9. MODERAT
Hindari hal-hal yang ekstrim. Bersabarlah terhadap hal-hal yang kurang adil atas dirimu.

10. KEBERSIHAN
Jangan mentolerir hal-hal yang tidak bersih dalambadan, pakaian, atau rumahmu.

11. KETENANGAN
Jangan gugup karena hal-hal remeh, atau kejadian-kejadian buruk yang biasa atau yang tidak terhindarkan.

12. KEMURNIAN
Pergunakan seks hanya untuk kesehatan atau keturunan. Jangan pernah berlebihan atau bahkan hingga merusak dirimu sendiri atau reputasi dan ketenangan orang lain.

13. KERENDAH HATI
Bersikaplah rendah hati terhadap siapapun.

Ketigabelas pelajaran ini seyogianya amat berguna bagi para kaum muda yang hendak menjadi insan berguna bagi bangsa, negara, agama, keluarga dan tentu dirinya sendiri. Seperti halnya, Benjamin Franklin, ketigabelas pelajaran ini dipraktekkannya, dievaluasi dan dicoba lagi dari minggu ke minggu. Sehingga pada saatnya ia menjadi berhasil membentuk dirinya sendiri sebagai negarawan.
(Pormadi Simbolon, pencinta humaniora. Ditulis dari berbagai sumber)
Powered By Blogger