Trima kasih mengunjungi blog kami!

Para pengunjung yth. semua isi blog ini ditulis atau disusun atas kemauan pribadi. Itu berarti blog ini berisi aneka pendapat, pemahaman, persepsi pribadi, dan pemikiran pribadi atas lingkungan kerja dan hidup sekitarnya. Harapan kami isi blog ini bermanfaat bagi pengunjung yang memerlukannya. Salam, GBU.
Tampilkan postingan dengan label gereja katolik Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja katolik Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, November 10, 2014

Beberapa Catatan Sidang Tahunan KWI 2014



Beberapa hal terkait  informasi sementara tentang Sidang KWI 3-13 November 2014:
1.      Sidang KWI berlangsung dari 3-13 November 2014
2.      Acara pembukaan pada 3 November 2014: Sidang dibuka oleh Ketua Presidium KWI, MGr. Ignatius Suharyo, dihadiri oleh 36 Uskup, dihadiri juga oleh Dubes Vatikan untuk Indonersia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi, Dirjen Bimas Katolik yang diwakili oleh Sesditjen Bimas Katolik, Agustinus Tungga Gempa, utusan PGI yang juga Sekum PGI oleh Pendeta Gomar Gultom, dan juga dihadiri oleh Yulius Kardinal Darmaatmadja SJ.

Ketua Presidium KWI dalam sambutannya mengajak semua Uskup dari seluruh Indonesia untuk berkaca pada semangat pembaruan yang kini tengah hangat-hangatnya dihidupi oleh Paus Fransiskus: sosok Gereja yang keluar dari lingkungan zona amannya sendiri dan pergi serta datang menjumpai masyarakat manusia.

Dirjen Bimas Katolik yang diwakili oleh Sesditjen Bimas Katolik mengulas beberapa poin yang menjadi harapan Bapa Suci sebagaimana tersaji dalam dokumen Evangelii Gaudium. Inilah visi baru gereja dalam duniamodern. Gereja menjumpai manusia.

Pendeta Gultom mengajak semua peserta untuk merefleksikan kesiapan Gereja dalam menghadapi revolusi mental yang sedang dihidupi dan menjadi model kepemimpinan Presiden. Ajakan revolusi mental sudah menjadi bagian dari seruan Surat Paulus kepada umat di Roma 12:2, “…berubahlah oleh budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Nuncio Vatikan, Mgr. Antonio Guido Filipazzi mengatakan KWI dan perwakilan kepausan sama-sama melayani Gereja Katolik di Indonesia. Ia juga mengharapkan agar pelayanan bersama ini dapat terlaksana dengan baik.

3.      Tema Sidang KWI: mempelajari Seruan Apostolik “Evangelii Gaudium” (sukacita Injil) yang diterbitkan pada 24 November 2013.
4.      Tujuan sidang: agar Gereja Katolik tetap melanjutkan upayanya untuk mencari dan melaksanakan cara baru menjadi Gereja Katolik Indonesia. Dengan pembelajaran ini KWI akan menyampaikan pesan Sidang Tahunan KWI 2014: “Mewartakan Sukacita Injil” kepada seluruh umat Katolik. Dengan mempelajari  Seruan Apostolik “Sukcita Injil” diharapkan Gereja menjadi sukacita bagi seluruh warga dan masyarakat.
5.      Sidang 6-13 November 2014: Sidang Tahunan ini diisi dengan penyajian Laporan-laporan Komisi, Lembaga, Sekretariat, dan Departemen (KLSD) KWI.
6.      Pesan Natal bersama hasil pembicaraan bersama PGI dan KWI: “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga
7.      Pada 8 November 2014: Konferensi pimpinan Tarekat-Tarekat di Indonesia (KOPTARI) berencana mengisi tahun 2015 sebagai Tahun Hidup Bakti. Tema Tahun Hidup Bakti 2015 adalah: “Mensyukuri dan Memberi Kesaksian tentang Keindahan Mengikuti Kristus sebagai religius”. KOPTARI berharap agar KWI menerbitkan Surat Gembala Menyongsong Tahun Hidup Bakti 2015.
8.      Minggu, 9 November 2014, para Uskup merayakan Ekaristi di Gereja Santo Matias Rasul Kosambi, untuk mendukung Gerakan Orangtua Asuh untuk Seminari (GOTAUS)
9.      Ada wacana apakah  Asian Youth Day 2017 akan disatukan dengan Indonesian Youth Day yang akan diadakan di Manado tahun 2017.
10.  Sidang KWI akan berakhir pada Kamis, 13 November 2014 dan ditutup dengan Misa perayaan syukur 90 tahun KWI.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Selasa, Juni 26, 2012

Fransiskus Endang menjadi Direktur Urusan Agama Katolik

F. Endang dan SP Simbolon
berbincang-bincang

Menteri Agama RI, Suryadharma Ali melantik melantik dan mengambil sumpah Fransiskus Endang, SH, MM menjadi Direktur Urusan Agama Katolik  bersama Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Anggito Abimanyu dan 7 pejabat elon II Kemenag di auditorium Kemenag Jl.MH.Thamrin No.6, Jakarta, selasa (26/6). Dengan demikian, eselon I dan II di lingkungan Ditjen Bimas Katolik telah lengkap. 


Agustinus Tungga Gempa,
Sekretaris Ditjen Bimas Katolik
Beberapa waktu sebelumnya, bertempat di Auditorium Kementerian Agama Jl. M.H. Thamrin Jakarta pada hari Rabu (25/4), Menteri Agama Suryadharma Aklai melantik dan mengambil sumpah Agustinus Tungga Gempa yang sebelumnya adalah Kepala Bidang Urusan Agama Katolik pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara TImur dilantik menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal  Bimas Katolik.


Pada saat yang sama, Sihar Petrus yang sebelumnya adalah Kepala Sub Direktorat Penyuluhan dilantik menjadi Direktur Pendidikan katolik serta Eusebius Binsasi yang sebelumnya adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka dilantik menjadi Kepala Kantor Wilayah Kementerian agama Provinsi Nusa Tenggara TImur. Pada bulan 5 Mei tahun lalu, Menteri Agama melantik dan mengambil sumpah jabatan Semara Duran Antonius sebagai Direktur Jenderal Bimas Katolik. 


"Waspadai pelemahan karakter aparatur Kemenag dalam melakukan tugas pelayanan dan fungsi memfasilitasi kehidupan umat beragama yang harus tetap berjalan dan tak boleh berhenti," ucap Menteri Agama dalam sambutannya.


Menag minta, seluruh pejabat kuasa pengguna anggaran, pejabat pembuat komitmen dan para pelaksana, terutama yang terkait dengan pengadaan barang dan jasa, jangan sekali-sekali bermain dengan aturan. "Jangan sekali-sekali menyiasati untuk mengambil keuntungan dari setiap program yang dilaksanakan," tegasnya.


Pejabat yang dilantik (26/6) adalah Dirjen Penyelanggaraan Haji dan Umrah Anggito Abimayu menggantikan Slamet Riyanto yang memasuki masa pensiun pada bulan mendatang.  Rektor IAIN Ambon Hasbullah Tov Suta, Direktur Urusan Agama Katolik Fransiskus Endang, Kakanwil Kemenag Gorontalo Muhajirin, Kakanwil Kemenag NTB, H. Usman, Kakanwil Kemenag Bali Anak Agung Muliawan, Kakanwil Kemenag Riau Tarmidji Tohor, Karo Administrasi Umum UIN Alaudin Abdul Kadir Ahmad dan Karo AUAK IAIN Sultan Amar Gorontalo Abdul Karim Rouf. (Sumber: kemenag.go.id).



Rabu, Februari 22, 2012

Membangun Kerjasama Sinergis Demi Umat



Ditjen Bimas Katolik Kementarian Agama RI berangkat dari tugas dan fungsinya sebagai fasilitator, mendukung dan memfasilitasi pembinaan umat Katolik Indonesia dalam berbagai bentuk kerjasama dengan institusi Gereja secara sinergis baik di bidang urusan agama, pendidikan agama dan keagamaan Katolik sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, dalam rangka membangun kesejahteraan umum (bonum commune) dalam bingkai NKRI.


Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Semara Duran Antonius, dalam sambutannya pada Lustrum II Keuskupan dan Peresmian serta Pemberkatan Gereja Katedral Santan Maria Assumpta Tanjung Selor, Kalimantan Timur (5/2) di Tanjung Selor.

Searah jarum jam: Dirjen Bimas Katolik (Semara Duran Antonius) 
Dubes Vatikan (Antonio Gudo Filipazzi),Bupati Bulungan 
(H. Budiman Arifin),   dan uskup Tanjung Selor  (Mgr. Yustinus Harjosusanto)
Ia berharap, sinergi dalam berbagai bentuk kerjasama antara Direktorat Jenderal Bimas Katolik dengan Keuskupan Tanjung Selor, antara Keuskupan Tanjung Selor dengan mitra kerja lainnya, dapat membuahkan rahmat berlimpah, dalam membangun kesejahteraan umat, serta mendorong kemandirian Gereja.

Dalam kesempatan itu, Semara Duran Antonius mewakili Pemerintah, mengucapkan selamat atas pemberkatan dan peresmian Gedung Gereja Katedral ini. Ia mengharapkan gedung ibadah ini dapat memancarkan kemegahan nurani penghuninya. Dengan demikian, umat Katolik dapat menjadi lilin-lilin yang menerangi di kala kegelapan tiba. Ia juga mengajak umat Katolik ikut berpartisipasi membangun kesejahteraan bersama seluruh warga masyarakat setempat dan menjaga kerukunan umat beragama.

Sementara itu, Duta Besar Takhta Suci Vatikan, Antonio Guido Filipazzi dalam sambutannya mengharapkan kepada Pemerintah Indonesia agar umat Kristiani Indonesia diberi kesempatan beribadah dengan bebas dan damai baik secara individu maupun kelompok. Ia juga mengharapkan gedung gereja Katedral membawa pengaruh positif dan rahmat berlimpah bagi umat dan warga setempat.
Hadir juga, H. Budiman Arifin, Bupati Kabupaten Bulungan dalam peresmian gedung gereja Katedral Tanjung Selor. Dalam sambutannya, Bupat Bulungan mengajak hadirin agar menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan etis spiritual, inspirasi, motivasi, pedoman dalam membangun masyarakat Kalimantan Timur. Ia juga mengajak agar masyarakat Kabupaten Bulungan dan masyarakat Kalimantan Timur membangun toleransi beragama berdasarkan akhlak mulia.


Dirjen Bimas Katolik ikut meresmikan gedung gereja Katedral mewakili Menteri Agama RI bersama Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Antonio Guido Filipazzi dan Bupati Bulungan, H. Budiman Arifin. Peresmian dan pemberkatan tersebut dihadiri dan disaksikan 14 Uskup dari seluruh Indonesia, selain Uskup Tanjung Selor, Mgr. Yustinus Harjosusanto dan Uskup Agung yang juga Dubes Vatikan tersebut.  

Selain itu, hadir juga Kepala Kantor Wilayah dan Pembimas Katolik dari Kantor Kementerian Agama RI Provinsi Kalimantan Timur yang dikili Kabag TU dan (Pormadi Simbolon)

Jumat, Maret 11, 2011

Bukan Pemimpin yang Mengorbankan Orang lain

Suatu organisasi atau perusahaan membutuhkan pemimpin yang rela berkorban untuk mencapai visi dan misinya, bukan pemimpin yang mengorbankan orang lain apalagi anak buahnya. Sebab pemimpin sejati adalah pemimpin yang rela berkorban, bahkan mengorbankan diri dan nyawanya bagi sesamanya demi perubahan ke arah yang lebih baik.

Dalam dunia kepemimpinan tradisional, kepemimpinan kerapkali dipandang dari hubungan antara pemimpin dan karyawan (leadership and followership) semata berlandaskan reward yang diberikan. Faktor utama yang mendorong karyawan untuk bekerja karena dibayar. Kontrol atas proses kerja terpusat pada sang pemimpin. Kepemimpinan demikian masih banyak kita temukan di sekitar kita. Bila ada sesuatu yang tidak beres dalam organisasi atau perusahaan, maka yang disalahkan, dipecat atau dikorbankan adalah orang lain.

Kepemimpinan yang mengubah

Perkembangan jaman dewasa ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tradisional harus didobrak dengan kepemimpinan gaya baru. Gaya kepemimpinan baru mengedepankan perubahan dan menekankan peran pemimpin yang menetapkan dan mengarahkan visi dan memastikan bahwa kinerja organisasi berubah.

Pemimpin seperti itu merupakan pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Dia mempunyai visi dan dan dalam pikirannya tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).

Teladan Kepemimpinan

Namun, satu hal yang patut dikedepankan, bahwa pemimpin di dunia ini belum bisa menandingi kepemimpinan dalam Kitab Suci khususnya dalam Perjanjian Baru. Kepemimpinan tersebut ditampilkan Yesus Kristus bagi orang yang percaya kepadaNya.

Yesus Kristus adalah seorang pribadi ”unik” yang dua ribu tahun lebih silam telah meletakkan dasar-dasar kepemimpinan yang rela berkorban demi kasih dan pelayanan. Yesus Kristus mewariskan nilai-nilai luhur kepemimpinan yang berguna bagi kesejahteraan/ kemaslahatan hidup bersama. Itulah makna yang dapat direnungkan dan dapat menjadi inspirasi bagi kepemimpinan yang rela berkorban dan melayani, siapapun dia.

Hakekat kepemimpinann Yesus yang tampak dalam Perayaan Paskah adalah perubahan: dari gelap ke terang, dari putus asa ke harapan, dari kematian ke kehidupan, dari perpecahan ke keutuhan! Untuk itu perlu pengorbanan dan pelayanan.

Seturut teladan Yesus Kristus, seyogiyanya para pemimpin bangsa-bangsa di dunia meneladani kepemimpinan Yesus yang melayani! Juga bangsa ini mendambakan pemimpin-pemimpin yang rela berkorban demi kepentingan umum dan mengupayakan bonum publicum (kesejahteraan umum), lebih dari sekadar kepentingan pribadi dan kelompok.

Teladan kepemimpinan Yesus ditampilkan dalam sengsara, wafat dan kebangkitanNya yang dikenangkan sebagai sebuah kemartiran yang mendatangkan penebusan dan keselamatan. Keteladanan ini selayaknya menjadi salah satu inspirasi bagi manusia dan para pemimpin akan memimpin sesamanya.

Salah satu ciri kepemimpinan yang melayani warisan Yesus Kristus terungkap dalam sikap yang mengedepankan kasih. Sebagai seorang pemimpin, Yesus Kristus giat memperjuangkan dan menggelorakan semangat berbuat kebaikan mencegah perbuatan jahat. Kasih sejati selalu mengalir dan meluap dari hati-Nya yang mengasihi dan menyayangi; bukan dari hati yang membenci dan mendendam!

Mendoakan lawan-lawannya

Bahkan, ketika para lawan-Nya menangkap, menghajar, mencambuki, mengolok-olok, meludahi dan menyalibkan-Nya di Golgota, Yesus Kristus masih bisa mendoakan mereka dan berseru, ”Ya Allah, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat!” (Lukas 23:34).

Corak penghayatan kepemimpinan Yesus Kristus tidak dinodai dengan hasrat dendam; sebaliknya, ditandai oleh sikap mengutamakan kasih dan pelayanan. Sikap itu dihayati Yesus Kristus hingga titik darah penghabisan di kayu salib. Peristiwa salib adalah puncak kasih dan kesetiaan Yesus Kristus pada komitmen untuk melayani dan memberikan yang terbaik kepada umat manusia, yakni keselamatan dan kesejahteraan lahir dan batin!

Pemimpin yang mengorbankan nyawa

Pada kayu salib, Yesus Kristus membuktikan dan menghayati kepemimpinan-Nya dalam kerelaan berkorban bagi umat manusia. Yesus berkorban hingga titik darah penghabisan melalui wafat-Nya di kayu salib hina, bukan demi kepentingan-Nya sendiri, melainkan demi kasih untuk umat manusia. Dari bilur-bilur luka-Nya, Ia menawarkan kesembuhan bagi luka-luka umat manusia akibat dosa.

Saat ini, kita tidak membutuhkan pemimpin yang tidak berkorban. Kita tidak membutuhkan pemimpin yang mengorbankan anak buahnya atau bawahanya dengan memecat atau menyalahkan sepihak.

Yang kita butuhkan adalah pemimpin-pemimpin yang rela mengedepankan kasih dan pengorbanan melalui empati dan belarasa kepada sesama manusia, sebagaimana telah dicontohkan Yesus Kristus.

Saat sesama diperlakukan secara tidak adil, manakah belarasa, kasih dan pengorbanan kita? Saat sesama manusia mengulurkan tangan untuk bersahabat, balasannya ditampik marah? Saat sesama membutuhkan pelayanan kita, malah membiarkannya merana tidak peduli? Tidakkah teladan kasih dan pengorbanan Yesus Kristus mengetuk hati kita?

Marilah meneladani kepemimpinan yang mengubah dari para tokoh dunia, yang lebih baik lagi meneladani kepemimpinan Yesus Kristus (Isa Almasih)

(dari berbagai sumber)


Senin, Desember 27, 2010

Menteri Agama Ucapkan Selamat Hari Natal Bagi Umat Kristiani

"Sebagai Menteri Agama RI, perkenankan dalam kesempatan ini saya menyampaikan selamat merayakan Hari Raya Natal kepada segenap umat Kristiani di tanah air" demikian pidato Menteri Agama RI, Suryadharma Ali, yang disiarkan di TVRI Jumat (24/12/2010) dalam rangka peringatan Natal 25 Desember.

Lebih lanjut Menteri Agama mengharapkan agar umat kristiani dapat menghayati makna perayaan Natal dalam bingkai semangat menjaga persatuan Negara Kesatuan RI, kerukunan umat beragama serta membangun Indonesia.

"Semoga saudara-saudara dapat menghayati makna perayaan Natal dalam bingkai semangat menjaga persatuan, kerukunan beragama serta tanggung jawab bersama membangun Indonesia yang aman, sejahtera dan bermartabat", demikian ungkapnya dalam siaran TVRI.

Lanjutnya, "Saya menyambut tema perayaan Natal Bersama PGI dan KWI 2010 yaitu "Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia. Sejalan dengan tema tersebut, diharapkan perayaan Natal mendorong umat Kristiani untuk semakin mempertebal penghayatan iman di tengah derasnya arus materialisme, indiviudalisme, dan hedonisme, masyarakat dewasa ini".

Berangkat dari peristiwa bencana di berbagai daerah (Wasior di Papua Barat, Mentawai di Sumatera Barat, dan Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta), Menteri Agama melihat bahwa sekat-sekat suku, agama, ras dan golongan tidak menjadi hambatan dalam menolong sesama manusia yang menjadi korban. Senada dengan itu, di tengah perayaan Natal ini, Menteri Agama mengajak segenap umat Kristiani dan elemen bangsa lainnya untuk terus memperkkuat kebersamaan yang tulus dalam membangun negeri tercinta.

Pada bagian akhir pidatonya, Menteri Agama mengharapkan umat Kristiani dapat merayakn Natal dengan pnuh khidmat di suasana memprihatinkan yang dialani sebagian bangsa Indonesia. Sekali lagi ia mengucapkan Selamat Natal 2010 bagi umat Kristiani dan selamat menyongsong Tahun Baru 2011.

Selasa, November 09, 2010

Gereja Katolik adalah Mitra Pemerintah

Gereja Katolik merupakan salah satu komponen bangsa yang menjadi mitra dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang taat beragama, maju, sejahtera dan cerdas serta saling menghormati antar sesama pemeluk agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian salah satu pesan Bapak Menteri Agama RI, Suryadharma Ali, ketika menghadiri dan membuka acara Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI 2010) pada 1 November 2010 di Bogor.

Mengenai tema SAGKI 2010, Menteri Agama yang didampingi oleh Pgs. Dirjen Bimas Katolik, Semara Duran Antonius, menyambut baik. "Saya menyambut baik tema yang diangkat, "Ia (Tuhan) Datang Supaya Semua Memperoleh Hidup dalam Kelimpahan". Sebuah tema yang menantang pemeluk agama agar selalu menyadari bahwa kehadiran Tuhan yang diimani itu benar-benar membawa kehidupan yang berlimpah kebaikan dan kedamaian melalui perbuatan dan amal baik yang tulus kepada sesama manusia".

Sidang yang dihadiri oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia dibuka secara resmi oleh Menteri Agama RI. Gereja Katolik adalah mitra pemerintah dalam membangun NKRI. (Pormadi Simbolon)

Jumat, Agustus 13, 2010

JANGAN MALU AKUI DIRI GURU AGAMA

Jangan malu mengakui sebagai Guru Agama, apalagi sebagai Guru Agama Katolik. Tugas anda mulia. Tanggung jawab anda di Pendidikan agama bukan hanya untu mentransfer ilmu tetapi bagaimana mengubah perilaku anak didik dengan kompetensi dan teladan dari seorang Guru Agama Katolik. Demikian salah satu pesan pertemuan Pembinaan Guru Agama Katolik Tingkat Menengah Lokal Provinsi Sumatera Selatan (17-20 Mei 2010) di Palembang.

Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih empat hari itu dan diikuti 35 orang peserta Guru Agama Katolik (GAK) dan para pembina agama, menurut Ketua Panitia, Drs. Alphonsus Supardi, MM adalah agar peserta pertemuan dapat meningkatkan mutu seorang Guru Agama Katolik sehingga kepercayaan diri dan motivasi/spiritualitas meningkat dalam melaksanakan tugas dan karyanya.

Sementara itu Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan dalam sambutan yang dibacakan oleh Bapak H. Amri, Kabag TU berpesan, bahwa sebagai GURU, tugas mereka bukan hanya mengajar, tetapi terutama sebagai pendidik yang memberi teladan: menanamkan pendidikan nilai, sikap mental yang positif, membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan berakhlak mulia dan toleran. Hal itu penting mengingat sekarang ini kondisi pendidikan kita masih memprihatinkan.

Oleh karena itu, didorong oleh niat iklas dan berangkat dari situasi pendidikan nasional yang memprihatinkan, Pemerintah akan menempuh berbagai upaya meningkatkan mutu pendidikan yang dicirikan dengan pendidikan yang tanggap pada situasi global, pendidikan yang mengembangkan potensi peserta secara utuh, mengembangkan kemampuan belajar terus menerus.

Senada dengan Kepala Kanwil tentang keadaan pendidikan nasional, Dirjen Bimas Katolik, yang diwakili Direktur Pendidikan Agama katolik, Drs. Natanael Sesa, M.Si, memberikan catatannya. Catatan tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PAPK) dengan kenyataan hidup sekarang ini: masih pada taraf pengetahuan belum pada pembentukan sikap dan kepribadian; metode pembelajaran belum menyentuh hati dan pengaruh lingkungan yang kurang mendukung.

Upaya Perbaikan

Untuk itu Pemerintah dalam hal ini Ditjen Bimas Katolik melakukan pembinaan antara lain melalui acara semacam ini dengan tujuan meningkatkan mutu pembelajaran pendidikan agama Katolik dengan keyakinan bahwa guru adalah faktor dominan dalam mewujudkan mutu pendidikan. Kalau guru tidak beriman, bagaimana muridnya bisa beriman. Guru akan menjadi ukuran.

Untuk itu lanjutnya, Pemerintah berharap GAK menambah wawasan tentang tugas dan fungsi mereka sebagai GAK. Mereka memahami kondisi riil masyarakat kita. Mereka seyogiyanya menggunakan kesempatan ini menjernihkan kembali motivasi sebagai GAK (spiritualitas). Mereka saling berbagi pengalaman, dan saling menguatkan satu-sama lain untuk menjadi lebih kreatif serta menghargai panggilannya sebagai GAK.

Situasi Aktual

Sebagai Direktur Pendidikan Agama Katolik dan sebagai Narasumber Bapak Drs. Natanael Sesa, M.Si memaparkan materi tentang Kebijakan Pemerintah di Bidang Pendidikan dan Kebijakan Teknis di Bidang Pendidikan Agama Katolik Kebijakan Pemerintah di Bidang Pendidikan dan Kebijakan Teknis di Bidang Pendidikan Agama Katolik. Menurutnya, berangkat dari tantangan aktual seperti adanya pergeseran nilai persatuan dan kesatuan bangsa menjadi pengedepanan kepentingan kelompok menguat/keretakan hidup berbangsa, adanya formalisme ggama yang lebih mengutamakan simbol daripada perbuatan/ aktualisasi nilai/ajaran agama. Selain itu nilai-nilai Pancasila menjadi kabur atau dikaburkan, dan yang lebih parah terjadi kemerosotan moral sekaligus fungsi hati nurani semakin pudar.

Salah satu upaya untuk perbaikan keadaan bangsa yang dilakukan Pemerintah dalam hal ini Ditjen Bimas Katolik adalah melakukan tingakan konkrit antara lain melalui pembinaan GAK yaitu peningkatan motivasi spiritualitas GAK melalui retret. Upaya lain adalah melalui pembinaan, GAK dapat mengembangkan wawasan tugas sebagai GAK melalui pembinaan profesionalitas; menyiapkan Kader Katolik melalui latihan kepemimpinan (kaderisasi) mahasiswa umum/PTAKS; memperluas akses pendididkan keagamaan Katolik melalui pemberian ijin pendirian Perguruan Tinggi Agama Katolik Swasta, ; meningkatkan kualifikasi pendidikan GAK melalui dual modes system, mengupayakan sertifikasi GAK dan memberikan bantuan honor dan beasiswa.

GAK yang militan

Sementara itu Narasumber lain, Romo Blasius Sukoto,SCJ, mengatakan semua orang Katolik termasuk seorang Guru Agama Katolik yang oleh karena menerima pembabtisan yang sama dipanggil untuk menjadi pewarta, dengan prinsip cerdas secara intelektual, dewasa secara emosional, beriman mendalam. Banyak orang pintar, namun emosi tidak digarap menjadi tidak berdaya guna dan memadai. Lanjut Romo Blasius yang aktif di bidang pembinaan kepemudaan di Keuskupan Palembang , Guru Agama Katolik diharapkan sebagai pewarta dan pendidik yang militan. Militansi dibangun dengan disiplin dan integritas diri yang tinggi di bidang katolisitas.

Narasumber lain, Pastor FX. Budi Haryono, S.Th, Bac,Tdg, SCJ, yang juga sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi di Palembang, menegaskan keempat kompetensi yang harus dikembangkan seorang GAK adalah pertama kompetensi Kepribadian menyangkut integritas, dewasa, berwibawa, arif, berakhlak mulia. Kedua, kompetensi pedagogik menyangkut analisis, perencanaan, pelaksanaan, pengembangan, penilaian/evaluasi. Ketiga, kompetensi profesionalitas menyangkut penguasaan materi, pengayaan bahan, pengusahaan metode. Keempat, kompetensi sosial menyangkut human relation, komunikasi segala arah, dan adaptabilitas.

Menurutnya, model yang bisa dijadikan teladan dalam membangun keempat kompetensi ini adalah Yesus Kristus. Semua kompetensi ini ada dalam diri Sang Guru kita yaitu Yesus Kristus. Antara karya dan perbuatan adalah satu dalam diri Yesus Kristus. Sebagai GAK, kita dipanggil mengikuti Dia, membangun relasi personal dan menimba pengetahuan langsung dari Sang Jalan, kebenaran dan Hidup itu. Kemudian membagikan kompetensi itu kepada para peserta didik. Dialah model kita dalam mengajar dan berbuat.

Khas Pendidikan Agama Katolik

Terkait standar materi pendidikan agama Katolik, menurut Narasumber lain,Yustinawati, M.Pd, bahwa standar kompetensi dan kompetensi dasar pendidikan agama Katolik harus mendapat persetujuan pimpinan Gereja melalui Komisi Kateketik KWI. Soal isi ajaran agama Katolik merupakan otoritas hirarki Gereja Katolik. Gereja menerbitkan suatu pedoman kurikulum beserta indikator pencapaian kompetensi yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran dan penilaian yang membantu para Guru dalam pembelajaran di kelas. Itulah kekhasan pelajaran agama Katolik.

Terkait metodologi pembelajaran, Yustinawati yang juga sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Palembang, metode pembelajaran agama Katolik dan pengorganisasiannya harus menyentuh seluruh diri manusia (kogitif, afektif, psikomotorik).Untuk itu maka perlu metode khusus yang menyentuh seluruh aspek. Seluruh rencana pembelajaran (RPP) harus memperhatikan ketiga aspek tersebut secara aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan.

Untuk itu, dalam pembelajaran perlu memperhatikan prinsip-prinsip dalam metode pembelajaran antara lain tidak cukup ceramah, tapi langsung mengalami langsug nilai yang diajarkan; berikan kesempatan untuk refleksi (masuk dalam dirinya, memikirkan apa yang dialami); teguhkan peserta didik untuk mencoba melakukan apa yang dipelajari; biasakan melaksanakan perilaku-perilaku bernilai agar menjadi perilakunya sendiri; sediakan model nilai/teladan bagi peserta didik anda seperti model Yesus memberi teladan sikap ; latihlah peserta didik sampai kompeten dan memiliki keterampilan sosial yang baik.

Beriman dalam Masyarakat Dinamis

Sebagai GAK yang hidup di jaman penuh tantangan ini, menurut Romo Guido Suprapto,Pr, maka ia dalam karya pendidikan agama Katolik harus berlandaskan ajaran iman Katolik, menghidupi spiritualitas Katolik, memantapkan mentalitas katolisitas dan berdasarkan arah dan orientasi pendidikan Katolik pula.

Romo yang aktif bertugas di salah satu Komisi Keuskupan, menegaskan beriman dalam masyarakat dinamis antara lain, seorang GAK perlu pertama, mengembangkan iman inklusif yang menjunjung persatuan dan persaudaraan yang tulus, Gereja harus mengedepankan dialog, menghargai perbedaan. Kedua, mengedepankan pendidikan iman yang mendorong pengakuan pluralitas budaya, agama, etnis, bahasa, dan lain-lain sebagai rahmat Tuhan. Ketiga, Iman yang mendorong penghargaan terhadap martabat seorang manusia yang berarti membangun hidup bersama yang damai dan adil. Keempat, membangun iman yang mendorong perjuangan demi kebaikan bersama (bonum publicum/ bonum commune). Kelima, membangun iman yang mendorong perjuangan tanpa kekerasan.Tujuan baik tidak menghalalkan cara.

Pada akhir pertemuan, semua peserta merasakan manfaat pertemuan ini. Hal ini paling tidak diakui Romo Mariyanto, yang mewakili para peserta GAK memberikan pesan dan kesan sehabis pertemuan. “Pertemuan ini menambah wawasan. Semua acara berjalan dengan baik dan diikuti para peserta dengan tekun. Kami sangat berterima terimakasih atas kerjasama pemerintah dan Gereja Katolik. Pada pertemuan ini kami mendapat semangat dan peneguhan kembali akan tanggung jawab kami sebagai GAK dan utusan Allah setelah pertemuan ini. Semoga kami menjadi percaya diri sebagai GAK di lapangan”, demikian tandas Romo yang aktif berkarya di bidang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan Katolik.

Sementara itu dalam penutupan acara, Semara Duran Antonius, Sekretaris Ditjen Bimas Katolik yang mewakili Dirjen Bimas Katolik, menegaskan sebagai GAK tugas anda merupakan tanggung jawab besar. Para orang tua bersedia menyerahkan anak-anak mereka menjadi anak didik anda, karena mereka percaya, anda GAK yang mampu mengajar dan mendidik anak-anak mereka menjadi anak-anak pintar, berakhlak mulia, terampil dan beriman. Jadi ingatlah, pendidikan agama bukan hanya transfer ilmu tetapi juga bagaimana mengubah perilaku anak didik. Inilah tugas mulia kita. Karena tugas mulia anda itu, para GAK tak perlu minder atau malu mengakui diri sebagai GAK. Saya mendengar bahwa banyak guru agama malu atau kurang percaya diri mengakui diri sebagai guru agama. (Pormadi Simbolon).
Powered By Blogger