Trima kasih mengunjungi blog kami!

Para pengunjung yth. semua isi blog ini ditulis atau disusun atas kemauan pribadi. Itu berarti blog ini berisi aneka pendapat, pemahaman, persepsi pribadi, dan pemikiran pribadi atas lingkungan kerja dan hidup sekitarnya. Harapan kami isi blog ini bermanfaat bagi pengunjung yang memerlukannya. Salam, GBU.
Tampilkan postingan dengan label orang muda Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang muda Katolik. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 19, 2006

GENERASI MUDA: BANGKIT DAN BERGERAKLAH!

GENERASI MUDA: BANGKIT DAN BERGERAKLAH!

Oleh: Pormadi Simbolon

Bangsa kita dikenal sebagai bangsa berbudaya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang tinggi, bermoral merosot, dan lingkungannya rusak serta nyawa warganya gampang melayang. Sementara teriakan sekelompok kecil penentang kebiasaan busuk dan tidak beradab tersebut tak ampuh menghentikan arus besar “gerakan” koruptor, maling dan tokoh-tokoh busuk yang ada di republik ini. Barangkali seruan Gymnastiar (Aa Gim) untuk mengurangi kebiasaan busuk dan tidak beradab tersebut adalah generasi muda harus memulai dari dirinya sendiri dan dari hal kecil untuk membangun keadaban publik yang bermartabat dan terhormat.

Dewasa ini, banyak orang membahas dan meneriakkan pemberantasan KKN, namun budaya busuk dan tidak beradab tersebut tetap merajalela mulai dari birokrasi tingkat paling tinggi hingga birokrasi tingkat paling rendah. Mengapa, ternyata sejulah pejabat publik yang kita kenal publik di permukaan dan meneriakkan pemberantasan korupsi, ternyata sudah menjadi tahanan polisi karena tindakan korupsi. Ternyata ada maling teriak maling. Tidak heran, Indonesia semakin kehilangan kepercayaan dari mata dunia internasional. Sampai sekarang kebiasaan maling dan rakus masih dipertontonkan di hadapan publik bangsa dan dunia.

Betapa merosotnya moral bangsa ketika kesibukan para pejabat publik memikirkan diri, kelompok atau golongan terbatas dan pengejaran cita-cita sektarian. Mereka melalaikan cita-cita hakiki bangsa ini ketika didirikan yaitu mengejar kemaslahatan segenap rakyat Indonesia. Akibatnya, banyak rakyat kecil semakin menderita dan miskin sementara para pejabat busuk menikmati uang negara secara haram.

Egoisme dan sektarianisme para maling juga tidak mempedulikan keselamatan lingkungan. Para maling dan tokoh busuk merusak lingkungan secara sewenang-wenang dengan melakukan perusakan hutan. Baru-baru ini kita digemparkan dengan kasus illegal logging terbesar yang terjadi di Papua dan Kalimantan. Kasus tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun dan merugikan negara sampai triliunan rupiah. Nyatanya pencurian kayu tersebut sudah membiasa bagi para cukong jahat dan pejabat publik bermoral busuk di rebublik ini.
Di saat gerakan pemberantasan korupsi sedang berjalan, pada saat yang sama pula sejumlah pejabat publik melakukan korupsi dengan membagi-bagikan uang negara. Ingat kasus KPU yang sedang marak sekarang ini. Ini sungguh menunjukkan betapa merosotnya keadaban sejumlah pejabat publik.

Yang lebih menakutkan lagi, sekelompok anak-anak bangsa ini memiliki niat menghilangkan nyawa orang-orang tidak bersalah. Niat jahat tersebut diwujudkan dengan melakukan peledakan bom dan provokasi di tengah masyarakat. Lagi, kecurigaan yang tergesa-gesa terhadap sesama dan kegampangan tersinggung alias marah ikut mempertebal niat untuk mengorbankan nyawa sesamanya.

Kebiasaan busuk dan tidak beradab tersebut belum bisa di tangani pemerintah , apalagi oleh teriakan sekelompok pejuang keadilan dan kepentingan segenap rakyat. Segelintir orang saja yang berani mencoba menentang arus budaya maling dan biadab yang sudah kasat mata.

Keberanian itu amat mahal harganya. Almarhum Baharuddin Lopa harus wafat ketika ia berencana memanggil koruptor ke pengadilan. Ia kehilangan nyawanya karena kehendaknya menegakkan keadilan.

Jaksa Agung saat ini, Abdurahhman Saleh merupakan harapan publik untuk mengadili para koruptor secara transparan. Selain karena latar belakangnya yang bersih dan jujur, ia juga merupakan tokoh yang berani menentang pembebasan Akbar Tanjung sebagai tersangka koruptor. Namun sayang, ia cepat naik pitam dan marah ketika seorang anggota DPR, Anhar menyebutnya “bagai ustadz di kampung maling”. Mestinya, kritikan tersebut memacu dirinya mengadili para koruptor dan maling harta negara.

Sekarang semakin jelas di hadapan kita, bahwa tidak sedikit pejabat dan pengelola badan publik di negeri ini mempertontonkan kebiasaan busuk dan tidak beradab yaitu KKN, tindakan amoral dan “asusila”. Masalah serius yang sedang mengancam nasib bangsa menjadi penyebab rusaknya keadaban publik. Seyogiyanya, masalah tersebut menjadi keprihatinan generasi bangsa ini.

Salah satu usaha terbaik, menurut Aa Gym adalah semua orang yang berkehendak baik berpartisipasi memperbaiki keadaban publik bangsa dengan berani memulai kebiasaan beradab, bermartabat dan terhormat dari diri individu dan dari hal kecil.

Sejak Orde Baru hingga “Orde Reformasi” generasi muda bangsa ini kesulitan mencari tokoh-tokoh yang dapat dijadikan model atau teladan bagi mereka. Tak heran kebanyakan generasi muda kerap kali menjadikan para tokoh bangsa jaman pra-Orde Baru saja menjadi model. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Haji Agus Salim dan Mohammad Roem.

Jika kita cermati riwayat hidup, pergulatan dan perjuangannya, keluar-masuk penjara, dibuang dan diasingkan, maka kita akan sadar betapa susahnya menggapai keberhasilan secara beradab, bermartabat dan terhormat. Keunggulan individu dari tokoh-tokoh tersebut persepsi dan praksis mereka memilih hidup berjuang serba susah namun terhormat dan bermartabat demi suatu keberhasilan dan kehidupan bangsa Indonesia.

Ada baiknya juga, jika segenap kaum muda bangsa ini, terutama di saat merenungkan hari Kebangkitan Nasional 20 Mei tahun ini, mau belajar dari para tokoh bangsa di negeri ini.

Tak salah juga jika belajar dari tokoh dunia seperti Benjamin Franklin, mantan presiden Amerika Serikat. Ia membangun keadaban individu dari dirinya sendiri. Mari wahai generasi muda bangsaku, bangkit dan bergeraklah dari tidurmu untuk membangun keadaban bangsa secara bermartabat dan terhormat seperti yang diteladankan para tokoh bangsa dan dunia.

Benjamin Franklin mempelajari dan mempraktekkan budaya jujur, adil, ugahari, diam (tidak gembar-gembor), tertib (disiplin), tenang, teguh hati, hemat, rajin, moderat, bersih (sehat), hidup murni dan rendah hari. Ketigabelas budaya beradab tersebut dipraktekkan dengan pengalaman jatuh-bangun untuk membangun diri menjadi insan beradab, bermartabat dan terhormat. Ia tidak terkecoh dengan budaya curang rekan-rekannya.

Setiap satu dari keadaban ini dipraktekkannya dalam satu minggu. Lalu pada setiap akhir minggu, perjuangan tersebut dievaluasinya. Bila gagal dalam minggu ini, ia melanjutkannya di Minggu berikutnya. Demikian seterusnya hingga ia berhasil menjadi insan beradab.

Keadaban jujur dijalankannya untuk menjauhi tipu muslihat yang menyakitkan hati, untuk berpikir bersih dan adil serta belajar berbicara tentang apa yang benar alias tidak berbohong. Antara kata-kata dengan tindakan serasi.

Sedangkan keadaban adil dipelajarinya agar ia tidak gampang menyalahkan orang lain dengan melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau melalaikan hal-hal yang menjadi kewajibannya.

Begitu pula keadaban ugahari didalaminya dengan belajar makan dan hidup yang cukup. Ia tidak makan dan minum terlalu banyak sehingga kelak ia tahu diri dan tidak memikirkan perutnya sendiri atau kelompoknya.

Demikian seterusnya untuk keadaban-keadaban bermartabat lainnya, digulatinya untuk membentuk diri menjadi insan beradab. Tak heran ia dipilih rakyat menjadi presiden, dan menjadi teladan bagi generasi muda bangsanya.

Generasi muda bangsa menjadi tonggak harapan perubahan keadaban bangsa yang rusak dan merosot. Kaum muda seyogiyanya berani memulai dari dirinya sendiri. Memulai dari diri sendiri memang bukan pekerjaan yang mudah. Usaha ini butuh motivasi dan kerendahan hati yaitu berangkat dari keprihatinan mendalam akan keadaban sejumlah pejabat pengelola publik di negeri ini. Upaya tersebut juga butuh kesediaan dan kerelaan secara bebas dan sadar akan susah-payah dan jatuh-bangun seperti yang ditunjukkan pengalaman Benjamin Franklin, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Haji Agus Salim dan Tokoh lainnya.

Tidak ada kata mundur bagi para insan beradab. Bagi mereka, usaha dan kerja keraslah yang membuat mereka menang secara terhormat. Mereka tidak picik. Mereka menghimbau ketabahannya. Memang mudah sekali untuk berhenti, namun untuk tetap tabah, itulah yang sulit. Meskipun mereka keluar dari pergulatan meletihkan dengan babak belur, patah dan takut, namun mereka tetap meneruskan perjuangannya.

Baru-baru ini, forum diskusi “Menembus Batas Nalar” yang diselenggarakan oleh Group Kompas dan Yayasan Mahardhika, mengemukakan bahwa bangsa ini perlu melakukan rekonstruksi peradaban (Kompas, 24/02/05). Rekonstruksi tersebut dibutuhkan mengingat moral dan nalar bangsa ini sudah dalam kondisi kritis yang amat gawat.

Menurut hemat penulis, membangun keadaban individu dari diri sendiri atau dari keluarga sendiri menjadi salah satu kunci untuk menciptakan kedaban publik yang memperhatikan keseimbangan moral dan nalar bangsa. Akhirnya tiada lagi pepatah-petitih “bagai ustadz di kampung maling” atau bila dibalik “bagai maling di kampung ustadz”. Semoga.

Pormadi Simbolon, SS, Alumnus STFT Widya Sasana Malang,

MEMBANGUN KEADABAN INDIVIDU

MEMBANGUN KEADABAN INDIVIDU

Oleh Pormadi Simbolon

Bangsa kita dikenal sebagai bangsa berbudaya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), bermoral merosot, lingkungannya rusak dan nyawa warganya gampang melayang. Sementara teriakan sekelompok kecil penentang budaya busuk dan tidak beradab tersebut tak ampuh menghentikan arus besar “gerakan” koruptor, maling dan tokoh-tokoh busuk yang ada di republik ini. Barangkali, salah satu usaha mengurangi budaya busuk dan tidak beradab tersebut adalah anak-anak bangsa ini harus berani membangun keadaban individu dari diri sendiri untuk membangun keadaban publik.

Banyak orang membahas dan meneriakkan pemberantasan KKN, namun budaya busuk dan tidak beradab tersebut tetap merajalela mulai dari birokrasi tingkat paling tinggi hingga tingkat RT/RW. Tidak heran, Indonesia semakin terkenal karena mendapat gelar salah satu negara terkorup dari tiga negara terkorup di dunia. Inilah budaya maling atau budaya tikus yang dipertontonkan anak-anak negeri di mata internasional yaitu budaya tidak beradab.

Betapa merosotnya moral bangsa ketika kesibukan anak-anak bangsa lebih memikirkan diri, kelompok atau golongan terbatas dan pengejaran cita-cita sektarian. Mereka melalaikan cita-cita hakiki bangsa ini ketika didirikan yaitu mengejar kemaslahatan rakyat banyak. Akibatnya, banyak rakyat kecil semakin miskin dan menderita.

Egoisme dan sektarianisme para maling juga tidak mempedulikan keselamatan lingkungan. Para maling dan tokoh busuk merusak lingkungan secara sewenang-wenang dengan melakukan illegal lodging. Baru-baru ini kita digemparkan dengan kasus illegal logging terbesar yang terjadi di Papua dan Kalimantan. Kasus tersebut sudah berlangsaung selama puluhan tahun dan merugikan negara sebesar triliunan rupiah. Nyatanya pencurian kayu tersebut sudah membudaya dan mebiasa bagi para cukong busuk di republik ini.

Yang lebih parah lagi, anak-anak bangsa ini memiliki budaya gampang menghilangkan nyawa sesamanya. Budaya ini jelas dari peledakan bom terencana, kecurigaan yang tergesa-gesa terhadap sesama dan kegampangan tersinggung alias marah. Nilai nyawa manusia menjadi semakin rendah dibandingkan nilai kepentingan diri atau kelompok.

Budaya busuk tersebut belum bisa dikurangi oleh sekelompok kecil pejuang keadilan dan kepentingan rakyak banyak. Segelintir orang saja yang berani mencoba memberantas budaya maling dan budaya tikus yang sudah kasat mata. Almarhum, Suprapto, mantan Jaksa Agung, merupakan salah satu tokoh yang berani mengatakan “tidak” secara lantang dan tegas kepada Presiden Soekarno.

Keberanian itu amat mahal harganya. Almarhum Baharuddin Lopa harus wafat ketika ia dengan berani memanggil tersangka koruptor. Ia kehilangan nyawanya karena kehendaknya untuk menghentikan budaya maling di negeri ini.

Jaksa Agung saat ini, Abdurahman Saleh merupakan harapan publik untuk menjadi “tonggak” perubahan budaya maling di republik tercinta ini. Selain karena latarbelakangnya bersih dan orangnya jujur, ia juga merupakan tokoh yang berani menentang pembebasan Akbar Tanjung sebagai tersangka koruptor. Namun sayang, ia cepat naik pitam dan marah ketika seorang anggota DPR Anhar menyebutnya “bagai ustadz di kampung maling”. Mestinya, kritikan ini ditanggapi sebagai cambuk untuk melawan dan mengadili para maling harta negara.

Sekarang semakin jelas di hadapan kita, bahwa bangsa ini sedang menghadapi masalah serius yaitu budaya KKN dan kemerosotan moral. Masalah serius yang sedang menggerogoti bangsa menjadi penyebab rusaknya keadaban publik. Salah satu usaha terbaik, menurut hemat penulis, adalah semua orang yang berkehendak baik memajukan kedaban publik bangsa harus berani memulai budaya beradab individu dari diri sendiri.

Dalam sejarahnya, bangsa ini mempunyai sejumlah tokoh yang memiliki keadaban individu yang pantas dijadikan model. Sebut saja Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Haji Agus Salim dan Mohammad Roem. Jika kita baca riwayat hidup, pergulatan dan perjuangannya, keluar-masuk penjara, dibuang dan diasingkan, maka kita akan sadar betapa susahnya menggapai keberhasilan secara beradab. Keunggulan individu dari tokoh-tokoh tersebut adalah persepsi dan praksis mereka yang memilih hidup serba susah sebagai pembebas bangsa ini dari penindasan penjajah.

Ada baiknya juga, jika setiap individu anak bangsa ini mau belajar dari Benjamin Franklin, mantan presiden Amerika Serikat (AS). Ia membangun “peradaban” individu dari dirinya sendiri.

Ia mempelajari dan mempraktekkan keadaban jujur, adil, ugahari, diam (tidak gembar-gembor), tertib (disiplin), tenang,teguh hati, hemat, rajin, moderat, bersih (sehat), hidup murni dan rendah hati. Ketigabelas budaya beradab tersebut dipelajari dan dipraktekkannya lewat pengalaman jatuh-bangun untuk membangun dirinya menjadi insan beradab. Ia tidak terkecoh dengan budaya curang para rivalnya.

Setiap satu keadaban ini dipraktekkanya dalam satu minggu. Lalu pada setiap akhir minggu, pelajaran tersebut dievaluasinya. Bila gagal, ia mempraktekkannya lagi di minggu berikutnya. Demikian seterusnya hingga ia berhasil menjadi insan beradab.

Keadaban jujur dipraktekkannya untuk menjauhi tipu muslihat yang menyakitkan hari, untuk berpikir bersih dan adil serta belajar berbicara tentang apa yang benar alias tidak berbohong.
Sedangkan keadaban adil dipelajarinya agar ia tidak gampang menyalahkan orang lain dengan melakukan sesuatu yang tidak adil atau melalaikan hal-hal yang menjadi kewajibannya.
Begitu pula keadaban ugahari dipelajarinya untuk belajar makan dan hidup yang cukup. Ia tidak makan dan minum terlalu banyak sehingga kelak ia tahu diri dan tidak memikirkan perutnya sendiri atau kelompoknya.

Demikian pula keadaban-keadaban lainnya, dipelajarinya untuk membentuk dirinya menjadi insan beradab. Tak heran ia dipilih rakyat menjadi presiden, selain menjadi tokoh yang diteladani warganya.

Membangun keadaban publik dengan memulainya dari diri sendiri bukanlah pekerjaan mudah, apalagi bila hal itu dilakukan di tengah maraknya budaya maling dan tikus. Upaya membangun keadaban individu membutuhkan kesediaan dan kesadaran akan susah-payah dan pengalaman jatuh bangun seperti yang ditunjukkan Benjamin Franklin, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Haji Agus Salim dan tokoh lainnya.

Tidak ada kata mundur bagi para insan beradab. Bagi mereka, usaha dan kerja keraslah yang membuat menang. Mereka tidak picik. Mereka mengimbau ketabahannya. Memang mudah sekali untuk berhenti, namun untuk tetap tabah, itulah yang sulit. Meskipun mereka keluar dari pergulatan meletihkan dengan babak belur, patah dan takut, namun mereka tetap meneruskan perjuangannya.

Baru-baru ini, forum diskusi “Menembus Batas Nalar” yang diselenggarakan oleh Group Kompas dan Yayasan Mahardhika mengemukakan bahwa bangsa ini perlu melakukan rekonstruksi peradaban (Kompas, 24/02/05). Rekonstruksi tersebut dibutuhkan mengingat moral dan nalar bangsa ini sudah dalam kondisi kritis yang amat gawat.

Menurut penulis, membangun keadaban individu dari diri sendiri atau dari keluarga sendiri menjadi salah satu kunci untuk menciptakan keadaban publik yang memperhatikan keseimbangan moral dan nalar bangsa. Akhirnya, tidak akan ada lagi pepatah-petitih “bagai ustadz di kampung maling” atau bila dibalik “bagai maling di kampung ustadz (agamawan”. Semoga.

Pormadi Simbolon,
Alumnus STFT Widya Sasana Malang,
Powered By Blogger