Ikuti melalui email

Trima kasih mengunjungi blog kami!

Para pengunjung yth. semua isi blog ini ditulis atau disusun atas kemauan pribadi. Itu berarti blog ini berisi aneka pendapat, pemahaman, persepsi pribadi, dan pemikiran pribadi atas lingkungan kerja dan hidup sekitarnya. Harapan kami isi blog ini bermanfaat bagi pengunjung yang memerlukannya. Salam, GBU.

Kamis, September 12, 2019

Herbert Marcuse dan Budaya Masyarakat Kapitalis Maju (Kritisisme atas kebudayaan)

foto: wikipedia.org
Pendahuluhan

Herbert Marcuse (1898-1979), salah satu anggota Mazhab Frankfurt, merupakan filosof dan berkarya pada Institute Penelitian Ilmu-ilmu Sosial. Dalam karyanya yang paling terkenal, One-Dimensional Man, 1964, Marcuse menganalisis kebudayaan masyarakat industri (kapitalis) maju. Analisanya didasarkan pada dua pengandaian. Pertama, bahwa manusia masyarakat industri maju sudah sama sekali terasing dari dirinya sendiri karena seluruhnya menyesuaikan diri dengan tuntutan efisiensi sistem produksi kapitalis. Kedua, bahwa dalam masyarakat industri maju tidak ada lagi kelas-kelas sosial yang menentang sistem, jadi bahwa dimensi kedua, bagian masyarakat yang menentang sistem, sudah tidak ada. Inti kritik Marcuse terhadap masyarakat industri maju adalah bahwa di dalamnya dimensi negatif disingkirkan, yang ada adalah dimensi afirmatif pada sistem yang berlaku. Berikut akan dibahas pemikiran Herbert Marcuse, dimulai dari masyarakat berdimensi satu, rasionlitas irasional, desublimasi represif, dimensi-dimensi desublimasi, de-erotisasi, Bahasa berdimensi satu, peran filsafat, budaya dan seni, the great refusal, dan diakhiri dengan catatan atas kritik Marcuse.

Manusia Berdimensi Satu: Kritik terhadap Masyarakat Kapitalis Maju

Melalui tulisan Marcuse dalam bukunya One Dimensional Man (1964), kekeroposan rasionalitas industri maju tampak di hadapan mata. Meskipun abstrak, banyak mengulang-ulang dan tidak disusun menurut suatu logika yang jelas, analisis-analisisnya tepat kena pada jantung permasalahan masyarakat kapitalis. Ekonomi pasar kapitalis tidak mampu memecahkkan masalah yang disebabkannya seperti masalah kemiskinan internasional, jurang antara negara kaya miskin menjadi lebih tajam, meskipun kaya raya, negara-negara kaya semakin tidak mampu menjamin hari tua warganya, dan tentu perubahan iklim.

Pada konteks jaman Marcuse, irasionalitas justru itu belum terlihat jelas. Masyarakat-masyarakat Barat justru merasa paling berhasil, paling puas diri, dan paling optimis. Kemiskinan terasa mulai teratasi. Kelas buruh industri semakin sejahtera, “negara sejahtera” menjamin bahwa taka da lagi orang terlantar. Masyarakat itulah yang dikritik Marcuse.


Masyarakat Berdimensi Satu

Inti kritik Marcuse terhadap masyarakat industri maju adalah bahwa di dalamnya dimensi negatif disingkirkan. Dalam semua masyarakat terdapat ada dua dimensi: dimensi afirmasi dann dimensi negatif. Dimensi afirmatif adalah semua unsur yang membenarkan dan mendukung kekuasaan yang bersangkutan. Sedangkan dimensi negatif adalah unsur-unsur yang menentang struktur-struktur masyarakat. Dimensi negatif itu penting: mengikuti Hegel dan Marxisme, Marcuse berpendapat bahwa “kekuatan negatiflah yang menentukan pengembangan pemikiran” dan dengan demikian memajukan masyarakat[1].

Menurut Marcuse, masyarakat industri maju berhasil mengintegrasikan unsur-unsur negatif sedemikian rupa sehingga malah mendukung sistem. Caranya adalah: ia menciptakan “produktivitas luar biasa dan standar hidup yang semakin tinggi. Maka dalam masyarakat industri maju, tidak ada unsur revolusioner lagi. Meskipun demikian, oposisi tetap ada, tetapi tidak lagi perlu ditindas, melainkan diberi ruang dan menjadi unsur dalam sistem yang ada, jadi tidak mengancamnya. Dengan demikian, semua ekspresi masyarakat industri maju menjadi satu dimensi yaitu afirmatif, membenarkan, dan memperkuat sistem kekuasaan yang ada.

Rasionalitas Irasional

Menurut Marcuse, masyarakat industri maju dapat mengintegrasikan seluruh dimensi negatif melalui manipulasi dua nilai paling khas bagi modernitas: rasionalitas dan kebebasan. Menurut Marcuse, meskipun masyarakat industri maju sebenarnya “tidak rasional” dan tidak membebaskan, namun ia kelihatan rasional dan bebas.

Mengikuti Max Weber, sebuah proses disebut rasional apabila yang “tercapai adalah hasil paling optimal dibandingkan dengan sarana-sarana yang dipakai. Dari sudut itu, masyarakat industri maju kelihatan sangat rasional. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kelangkaan yang selalu menimpa bagian terbesar umat manusia berhasil diatasi. Kaum proletariat yang dulu selalu terancam kemiskinan dan kelaparan sekarang tidak hanya dapat makan cukup tetapi semakin menikmati konsumsi produk-produk yang dihasilkan oleh perekonomian kapitalis. Sistem perekonomian kapitalis berkesan rasional karena berjanji akan menjamin tingkat hidup yang semakin tinggi bagi semua.

Dalam masyarakat industri maju, masyarakat bisa menikmati kebebasan: kebebasan bergerak dan pergi ke mana-mana, kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat, berpartisipasi dalam demokrasi, kebebasan beragama, berpikir dan mencari informasi, dan lain sebagainya. Kebebasan itu terasa begitu luas karena masyarakat industri maju tidak menindas atau melarangnya, melainkan membiarkannya, seraya mengintegrasikannya secara halus.

Marcuse berpendapat bahwa masyarakat secara keseluruhan dinilai menyenangkan karena para warga masyarakat memang merasa kebutuhan mereka terpenuhi, akan tetapi kebutuhan-kebutuhan itu sudah dimanipulasi oleh rasionalitas teknologis di mana yang rasional adalah kesesuaian dengan tuntutan efisiensi sistem produksi kapitalis. Tuduhan inti Marcuse adalah masyarakat industri maju sudah memanipulasikan kebutuhan-kebutuhan para warganya.

Kebutuhan manusia yang sebenarnya adalah agar ia dapat menentukan diri sendiri dan membangun hubungan antar-manusia yang tidak terasing, jadi untuk mengembangkan diri dan menjalin hubungan dengan orang lain atas dasar orang saling meminati dan saling menghormati martabatnya. Tetapi dalam masyarakat industri maju kebutuhan manusia yang sebenarnya itu sudah tertimbun oleh kebutuhan yang dirangsang oleh segala macam promosi dan iklan, oleh irama di tempat kerja, oleh sistem lalu lintas, oleh media, dan oleh mekanisme pasar. Hasil manipulasi itu adalah bahwa manusia sepertinya latah ingin membeli apa yang dilemparkan ke pasar. Hubungan dengan orang lain semakin terasing karena fungsinya dalam sistem produksi, sebagai sarana agar saya dapat berfungsi dalam rasionalitas teknologis sistem produksi kapitalis. Rasionalitas teknologis ternyata irasional.

Begitu pula rasa bebas manusia dalam masyarakat maju bersifat semu. Manusia sebenarnya tidak menentukan diri, melainkan dimanipulasi dan dengan demikian justru tunduk di bawah kediktatoran efisiensi sistem perekonomian kapitalis. Manusia juga tidak peduli, selama ia bisa berkonsumsi. “Tidak ada alasan untuk menuntut penentuan diri apabila hidup yang diatur merupakan hidup yang enak dan bahkan baik”[2].

Kritik Marcuse ini berdasarkan sebuah distingsi yang merupakan kunci untuk memahaminya, yaitu antara “kebutuhan benar dan palsu”[3]. Kebutuhan palsu adalah kebutuhan yang dimanipulasikan, di mana manusia merasakan membutuhkan sesuatu yang sebenarnya justru tidak dibutuhkan. yaitu untuk menjadi manusia utuh. Untuk menunjukkan ketidakbenaran masyarakat industri maju, Marcuse menunjuk pada kekerasan yang berlangsung di dalamnya, meskipun secara tersembunyi. “Produktivitasnya merusak pengembangan bebas kebutuhan-kebutuhan dan bakat-bakat manusia, perdamaiannya dipertahankan melalui ancaman perang”[4], “kemewahan sangat berlebihan dan pembatadan produktivitas, kebutuhan ekspansi agresif, ancaman perang terus-menerus, pengisapan yang semakin tajam, dehumanisasi[5].

Menurut Marcuse, cara masyarakat industri maju mampu memanipulasikan anggota-anggota sedemikian total melalui suatu mekanisme yang disebutnya “desublimasi represif”.

Desublimasi represif

Dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud, pengembangan kebudayaan dijelaskan sebagai sublimasi dorongan-dorongan naluri manusia, khususnya seksualitas. Freud beranggapan bahwa melalui “pengalihan dorongan-dorongan seksual dari sasaran-sasaran seksual dan pengarahannya ke sasaran-sasaran baru, dimulailah proses yang pantas disebut sublimasi, dimana diperoleh komponen-komponen kuat untuk menciptakan kebudayaan[6]. Pendek kata, kebudayaan adalah hasil sublimasi seksualitas manusia. Pengalihan energi dorongan-dorongan instingtual menghasilkan energi psikis yang memampukan manusia menciptakan prestasi intelektual dan kultural.

Dengan memilih istilah desublimasi[7], Marcuse mau mengatakan bahwa dalam masyarakat industri maju proses itu dibalik. Energi psikis yang ada di belakang cita-cita intelektual dan kultural dialihkan kembali menjadi dorongan instingtual untuk menyesuaikan diri dengan kepentingan sistem kapitalisme maju. Cita-cita manusia mengalami pengosongan dan berubah menjadi dorongan psikis untuk berfungsi penuh dalam sistem produksi kapitalis. Rasionalitas manusia diciutkan menjadi rasionalitas teknologis semata-mata. Manusia tidak lagi hidup dan berusaha menurut cita-citanya, melainkan sekarang ia bercita-cita untuk menjadi salah satu roda gigi dalam pelancaran proses produksi kapitalisme. Ia justru merasa bahagia kalai ia seluruhnya “sesuai” dan trendy. Dengan demikian dimensi kedua, dimensi kritis, kemampuan untuk mengambil jarak dan berprotes, tersingkir.

Dengan desublimasi itu, masyarakat industri maju berhasil mengatasi apa yang oleh Hegel disebut “kesadaran yang tidak bahagia”[8]. Menurut Hegel, manusia merasa resah secara mendalam begitu ia menyadari bahwa realitas di dalamnya ia hidup berbeda dari cita-citanya. Kesadaran tidak bahagia itu amat penting karena dengan demikian manusia sadar bahwa ada yang tidak beres, sekaligus ia terdorong untuk berpikir. Dalam filsafat Hegel kesadaran-tak-bahagia melahirkan akal budi.

Marcuse menegaskan bahwa sublimasi itu represif. Sublimasi itu menindas cita-cita manusia yang sebenarnya. Hanya ia tidak sadar akan represi itu karena dilaksanakan secara halus, dengan memanipulasikan naluri-nalurinya. Dengan demikian, oposisi tidak bisa mengancam sistem itu sendiri.

Dimensi-dimensi Desublimasi

Desublimasi menyangkut seluruh kemampuan seluruh kemampuan luhur manusia. Manipulasi kebutuhan manusia yaitu bahwa manusia dalam masyarakat industri maju tidak lagi tahu apa yang sebenarnya ia inginkan, karena ia sudah dikerjakan sehingga ia “butuh” kelihatan trendy, sesuai dengan trend, butuh berpakaian, berkendaraan, bergaul, berpembawaan seperti model-model dalam iklan. Dengan demikian, dua kebutuhan paling dasar manusia, kebutuhan mengembangkan diri sesuai dengan cita-citanya sendiri dan kebutuhan akan hubungan dengan orang-orang yang betul-betul diminati sudah tertimbun. Manusia menjadi terasing dari dirinya.

De-erotisasi

Istilah “erotis” hampir sama artinya dengan “seksual”. Tetapi, penyamaan itu justru membuktikan desublimasi kemanusiaan. Ketertarikan seksual sebenarnya hanya salah satu unsur dalam ketertarikan erotis antar manusia. “Erotis” – sebagaimana dimaksud oleh Marcuse – berarti bahwa orang lain diminati pada dirinya sendiri dan bukan hanya sebagai pembawa salah satu fungsi. Maka, yang dituntut oleh sistem produksi adalah orang yang telah menyingkirkan segala unsur personal dan berfokus pada fungsinya.

Dengan demikian, alienasi hubungan antar manusia menjadi lengkap. Kita membutuhkan orang lain, tetapi tidak lagi demi dia itu sendiri, melainkan atau sebagai rekan pelaku fungsi-fungsi dalam sistem atau sebagai sarana pemenuhan kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual sendiri justru mudah dimanipulasi – sebagian besar iklan memanfaatkan ketertarikan seksual – sehingga manusia semakin mudah dapat dimanipulasi. Itulah latarbelakang seksualisasi yang meresapi seluruh kebudayaan industri maju.

Bahasa Dioperasionalkan

Penyingkiran dimensi kedua didukung oleh manipulasi bahasa. Bahasa dimanipulasi sedemikian rupa hingga dwi-dimensionalitasnya hilang. Sebenarnya bahasa secara hakiki bersifat dwi-dimensional karena bahasa senantiasa melampauai fakta-fakta. Selalu ada “konflik antara konsep dan fakta terberi”[9]. Fakta tidak pernah memadai dengan konsep dan karena itu konsep membuka kekurangan setiap faktisitas.

Tetapi masyarakat industri maju telah menyingkirkan unsur-unsur transenden[10], unsur-unsur yang melampauai yang terberi itu. Dengan demikian manusia juga “berpikir berdimensi satu”. Sarana penghilangan dimensi dua dalam bahasa adalah operasionalisme[11]. Dengan demikian terjemahan paham umum ke dalam paham operasional menjadi pembatasan represif pemikiran. Pemakaian singkatan bisa mempunyai efek yang sama. “Singkatan dapat membantu untuk menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak diinginkan”[12]. Marcuse menunjuk pada kenyataan bahwa “lembaga kebebasan berbicara dan berpikir (yang dijamin dalam masyarakat industri maju) tidak mempersulit penyesuaian kerohanian dengan realitas yang sudah dimantapkan (oleh sistem, istilah Franz Magnis Susesno), jadi dengan faktualitas.

Desublimasi itu sangat kelihatan dalam politik, di mana nilai-nilai seperti “kemerdekaan”, “perdamaian”, “keadilan”, “demi rakyat”, “kepentingan nasional”, atau “toleransi” didefinisikan sesuai dengan kepentingan sistem perekonomian kapitalis. Segi represif desublimasi itu kelihatan karena orang tidak menyesuaikan diri, jadi yang betul-betul menolak Bahasa yang sudah dimanipulasi, tidak akan diberi kesempatan untuk mempublikasikan pemikirannya, misalnya dengan alasan bahwa pemikirannya “aneh”, atau “sulit ditangkap maksudnya”, jadi ia akan disingkirkan.


Filsafat Masih Kritis?

Filsafat sebenarnya sejak semula merupakan kekuatan lawan yang ampuh. Filsafat memiliki “tugas historis untuk mencairkan, bahkan menghancurkan secara intelektual fakta-fakta terberi”[13]. Filsafat “mendekati tujuan itu sejauh membebaskan pemikiran dari perbudakannya terhadap kerajaan bahasa dan kelakuan yang terberi, mencerahkan negativitas realitas… dan memikirkan alternatif-alternatif”[14]. Filsafat selalu mengritik segala kemantapan, selalu mengajukan alternatif-alternatif, jadi selalu menjadi salah satu wakil ampuh dimensi negatif. Karena itu, untuk mencairkan daya kritis filsafat, “kaum intelektual suka diejek sebagai orang-orang yang tidak akrab dengan orang biasa”[15], jadi sebagai orang-orang aneh, pinggiran, lucu tetapi tidak praktis, sebagai pengkhayal jauh dari kenyataan. Namun menurut Marcuse, filsafat sendiri juga sudah kerasukan virus positivism yang menggerogoti pemikiran kritis negatif.

Positivisme adalah nama suatu aliran yang membatasi pengetahuan yang sah pada data-data positif yang terberi. Dengan demikian yang terberi harus diterima seadanya, tidak dapat disangkal secara kritis. Kecenderungan positivistik sudah tampak dalam empirisme, aliran filsafat sejak abad ke-18 yang membatasi pengetahuan pada pengalaman indrawi, kemudian dalam behaviorisme dan dalam positivism logis. “Empirisme membuktikan diri sebagai pemikiran positif”[16], bukan dalam arti pemikiran yang terpuji, melainkan sebagai pemikiran yang menyingkirkan dimensi negatif. “Behaviorisme dalam ilmu-ilmu sosial”[17] menuntut agar manusia dilihat dari apa yang dilakukannya dan bukan dari apa yang dimaksud. Dengan demikian, behaviorisme menyingkirkan kemungkinan untuk mengambil jarak kritis terhadap apa yang dilakukan.

Marcuse menegaskan bahwa filsafat harus memakai bahasanya sendiri, karena bahasa yang dipakai oleh masyarakat umum, sudah termanipulasi, “sehingga mereka apabila bicara dalam Bahasa mereka sendiri, juga bicara dalam bahasa tuan-tuan, pendana, dan penulis teks iklan”[18]. Filsafat harus mempertahankan bahasa yang menentang.

Peran Budaya dan Seni

Menurut Marcuse, seni dan budaya tinggi hidup dari oposisi terhadap faktualisme datar, dari perlawanan terhadap yang terberi. Seni “memuat rasionalitas pembantahan”[19]. “Apa yang semula menyatukan ilmu pengetahuan, seni, dan filsafat adalah kesadaran akan jarak antara yang nyata dan yang mungkin”[20]. Seni membuka kesadaran bahwa sesuatu mempunyai potensi-potensi yang melampaui realisasinya di tempat dan waktu tertentu.

Namun, “kemajuan rasionalitas teknologis sedang menyisihkan unsur-unsur oposisional dan transenden dalam ‘kebudayaan tinggi’[21]. Ini terjadi karena seni dan budaya tinggi diintegrasikan ke dalam sistem sehingga dimensi kritis mereka hilang. Dengan demikian, unsur-unsur kritis sebuah karya seni dijinakkan karena unsur seni yang lain, yang di seberang, yang mengejutkan, yang menantang, yang menyeleweng sudah diresap menjadi pendukung kenyamanan sistem masyarakat kapitalistik.

Penolakan yang agung – siapa yang melakukannya?

Marcuse mengharapkan agar masyarakat berdimensi satu dapat didobrak. Seni dan filsafat meski tetap dapat diandalkan untuk menolak faktualitas terberi, tapi terlihat sudah melemah. Marcuse juga menyuarakan harapan bahwa “para outsider”: korban pengisapan dan yang diburu dengan alasan ras dan warna kulit, para tuna-kerja dan mereka tidak mampu untuk bekerja … apabila mereka bersatu dan mulai berprotes di jalan”[22], bisa menjadi kekuatan pendobrak. Tetapi analisis dalam One Dimensional Man tidak mendukung harapan itu. Marcuse menjadi pesimis.

Akhirnya, hanya tinggal satu imbauan untuk melakukan “penolakan agung”, “the great refusal”[23]. Penolakan agung adalah penolakan heroik seseorang untuk ikut dalam sistem. Marcuse tidak menguraikan apa konsekuensi konkrit penolakan itu, misalnya apa orang akan menolak memiliki mobil sendiri .

Nilai penolakan agung terletak dalam kesaksiannya: bahwa masih ada orang yang tidak membungkuk terhadap binatang raksasa yang bernama sistem produksi kapitalis. Penolakan itu mengagumkan, satu-satunya sikap dasar yang dapat diambil. Tetapi, apakah sikap beberapa pribadi yang – istilah kita – hidup sederhana bisa menggoncangkan sistem yang mendasari dan mengorganisasikan masyarakat industry maju? Analisis masyarakat industri maju dalam One-Dimensional Man pada dasarnya pesimis.

Catatan dan Penutup
Marcuse tidak menyerah. Dalam pelbagai tulisan kemudian ia terus menjajaki kemungkinan sebuah “revolusi kebudayaan” total[24]. Namun siapa yang melakukan revolusi sosial tersebut? Marcuse yakin bahwa kelas buruh tidak dapat diharapkan lagi. Marcuse pessimis. Ia juga tidak bisa menujukkan jalan keluar.

Marcuse mengadakan analisanya didasarkan pada dua pengandaian. Pertama, bahwa manusia masyarakat industri maju sudah sama sekali terasing dari dirinya sendiri karena menyesuaikan diri dengan tuntutan efisiensi sistem produksi kapitalis. Kedua, bahwa dalam masyarakat industri maju tidak ada lagi kelas-kelas sosial yang menentang sistem.

Tetapi apakah dua pengandaian itu benar? Menurut Franz Magnis Suseno, gejala-gejala yang dianalisis Marcuse, dalam One-Dimensional Man sangat nyata. Ada manipulasi kebutuhan, ada konsumsi paksaan, ada pelbagai keterasingan. Ancaman bahwa orang larut dalam konsumerisme tidak dapat diragukan. Tetapi, itu semua adalah tendensi-tendensi, bukan deskripsi kenyataan. Masih banyak orang, dari semua kelas sosial yang menghayati nilai-nilai asli, entah dalam keluarga, dalam agama, dalam pelbagai kehidupan sosial, dalam kehidupan intelektual dan di bidang estetik.

Begitu pula tidak betul bahwa tidak ada kritik, protes, dan perlawanan. Luas disadari bahwa masyarakat industri belum memecahkan masalah kemiskinan. Di masyarakat industri maju sendiri, celah antara kaya miskin semkin besar dan pembiayaan jaringan keamanan sosial semakin mahal. Ditambah adanya kesadaran bahwa sistem produksi dapat menghancurkan lingkungan hidup tempat dan sumber kehidupan. Jelas sekali, dimensi kedua dalam masyarakat industri maju, dimensi negatif atau dimensi kritik masih ada.

Menurut Franz Magnis Suseno, tawaran pemikiran Marcuse selalu bergerak dalam paham totalitas. Yang ada hanyalah seluruhnya terasing atau seluruhnya terbebas. Tak ada yang di tengah. Bahwa kenyataan bersifat campur, abu-abu, serta pasang-surut, tidak dapat ditangkap dalam kerangka dialektika totalitas. Kritik itu sudah dikemukakan oleh Karl Popper[25].

Karena itu analisis Marcuse amat tajam dan membantu untuk melihat ancaman terhadap kemanusiaan kalau kita menyerah pada sistem produksi kapitalis, tetapi ia gagal untuk menunjukkan jalan keluar. Jalan keluar ini menjadi tantangan bagi generasi berikutnya.


***


DAFTAR PUSTAKA

Marcuse, Herbert, 1964, One-Dimensional Man, Studies in the ideology of advanced industrial society,London and New York: Routledge Classics 2002 by Routledge Magnis-Suseno, Franz, 2013, Dari Mao ke Marcuse, Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, Jakarta: Gramedia
[1] Magnis-Suseno, Franz, 2013, Dari Mao ke Marcuse, Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, hal. 270
[2] Marcuse, Herbert, 1964, One-Dimensional Man, Studies in the ideology of advanced industrial society, Hal. 49
[3] Ibid,Hal. 4
[4] Ibid. Hal. IX
[5] Ibid. Hal. 257
[6] Magnis-Suseno, Franz, 2013, Dari Mao ke Marcuse, Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, hal. 276
[7] Marcuse, Herbert, 1964, One-Dimensional Man, Studies in the ideology of advanced industrial society, Hal. 59
[8] Ibid Hal. 64
[9] Ibid. Hal. 102
[10] Ibid. Hal. 12
[11] Ibid. Hal. 86
[12] Ibid. Hal. 94
[13] Ibid. Hal. 185
[14] Ibid. Hal. 199
[15] Ibid. Hal 174
[16] Ibid. Hal 170
[17] Ibid. Hal. 12
[18] Ibid. Hal. 193
[19] Ibid. Hal. 63
[20] Ibid. Hal. 229
[21] Ibid. Hal. 56
[22] Ibid. Hal. 256
[23] Ibid. Hal. 65
[24] Magnis-Suseno, Franz, 2013, Dari Mao ke Marcuse, Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, hal. 130
[25] Magnis-Suseno, Franz, 2013, Dari Mao ke Marcuse, Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, hal. 292

Tidak ada komentar: