Ikuti melalui email

Trima kasih mengunjungi blog kami!

Para pengunjung yth. semua isi blog ini ditulis atau disusun atas kemauan pribadi. Itu berarti blog ini berisi aneka pendapat, pemahaman, persepsi pribadi, dan pemikiran pribadi atas lingkungan kerja dan hidup sekitarnya. Harapan kami isi blog ini bermanfaat bagi pengunjung yang memerlukannya. Salam, GBU.

Senin, September 16, 2019

Sang Uskup Pancasila Menjadi Kardinal

foto: pormadi

Oleh: Pormadi Simbolon

Paus Fransiskus telah me­nunjuk dan me­ngangkat Monsignor (Mgr) Ignatius Su­­haryo yang sekarang se­dang me­ng­abdi sebagai Uskup Agung Jakarta men­jadi Kardinal (Minggu, 1 September 2019) bagi bangsa Indonesia. Figur Ignatius Suharyo, yang kerap disebut "uskup Pancasila" sekarang sudah dipilih menjadi Kardinal.

Dalam tradisi Katolik, kardinal adalah sebuah gelar rohani sangat tua yang secara hirarkis berada langsung dalam ling­karan Paus sebagai pemimpin ter­ti­nggi Gereja Katolik Sedunia. Para kar­dinal dipilih dan diangkat oleh Paus. Ini merupakan hak prerogatif Paus. Tu­juannya mendukung Paus dalam menja­lankan tugas kepausannya me­mimpin Gereja Katolik, baik secara individu, maupun secara kollegium.

Dilihat dari tugasnya, para kardinal menjalankan tugas dari memimpin perkantoran-perkantoran kuria di Vati­kan, hingga pemimpin gereja lokal ne­gara masing-masing dan penasihat ge­reja lokal. Tugas utama paling menonjol para kardinal adalah memilih paus yang baru. Ketika terjadi kekosongan jabatan paus di Roma, para kardinal sebagai kolle­gium memimpin roda pemerintahan Ge­reja Katolik. Para kardinal juga me­miliki hak dipilih menjadi Paus.

Kardinal ketiga Indonesia

Mgr Ignatius Suharyo yang juga men­jabat sebagai Ketua Presidium Kon­fe­rensi Waligereja Indonesia merupakan kar­­dinal ketiga Indonesia. Kardinal kedua adalah Mgr Julius Darmaatmadja yang ditunjuk pada tahun 1994 saat men­jabat Uskup Agung Semarang. Kardinal per­tama adalah Mgr Justinus Darmo­ju­wono yang dilantik pada 1967 di sela tugasnya tugasnya sebagai Uskup Agung Semarang pada 1963-1981.

Bangsa Indonesia sangat bersyukur atas terpilihnya Ignatius Suharyo men­jadi kardinal. Menteri Agama RI, Luk­man Hakim Saifuddin mengucapkan se­la­mat atas pengangkatan Ignatius Su­har­yo sebagai kardinal dan berharap men­jadi berkah bagi bangsa Indonesia. Uca­pan selamat juga datang dari tokoh na­sional, H Ahmad Syafii Maarif.

Semangat Menjaga Pancasila

Menurut Adi Prasojo, Sekretaris Ke­uskupn Agung Jakarta, keterpilihan Mgr Ign­asius Suharyo merupakan buah dari kepemimpinannya selama ini (Jawa Pos,3/9). Bagi umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta, Uskup Suharyo sering digelari “Sang Uskup Pancasila”. Me­ngapa tidak, dialah yang menggagas agar umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta menjadi persekutuan dan gerakan umat Allah, bercita-cita menjadi pembawa su­kacita injil dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maharahim dengan menga­mal­kan Pancasila demi keselamatan ma­nusia dan keutuhan ciptaan (Arah Dasar KAJ 2016-2020)

Penulis, merupakan salah satu umat Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sangat merasakan betapa Mgr Suharyo men­cintai tanah air Indonesia dan menjaga Pancasila. Uskup yang rendah hati ini dengan penuh semangat mengajak umat Keuskupan Agung Jakarta yang ber­jum­lah 499.485 jiwa (2014) menga­mal­kan Pancasila mulai sari sila pertama sampai de­ngan sila kelima dari tahun 2016 sampai dengan 2020.

Tahun 2016 umat Katolik KAJ diajak merefleksikan dan mengamalkan sila Per­tama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Tema yang menjadi ba­han permenungan umat mulai dari ting­kat keuskupan, paroki hingga ling­ku­ngan (komunitas basis) adalah Amalkan Pan­casila: Kerahiman Allah Memer­de­kakan”.

Kemudian tahun 2017 umat Katolik KAJ bersama-sama mendalami sila ke­dua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab. Harapannya, dengan meng­hayati sila kedua tersebut, umat ma­kin adil terhadap sesama, makin beradab. Semboyannya, Makin Adil, Makin Beradab.

Sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia dihayati pada 2018. Persatuan Indonesia adalah cita-cita bersama karena rea­litasnya bangsa Indonesia adalah ma­je­muk. Umat diajak agar menghayati per­satuan Indonesia dengan semboyan: Amalkan Pancasila, Kita Bhinneka, Kita Indonesia.

Pada tahun 2019 yang juga merupa­kan tahun pemilihan umum di Indonesia, Uskup Suharyo mengajak umat Katolik KAJ untuk mengamalkan sila ke­­empat yaitu Kerakyatan yang dipim­pin oleh hikmat kebijaksanaan dalam per­musyawaratan/perwakilan. Tema yang ditetapkan adalah Amalkan Panca­sila, Kita Berhikmat, Bangsa Ber­mar­ta­bat. Menurut Suharyo, berhikmat dalam bahasa Pancasila, sama dengan menjadi semakin sempurna dalam kesucian dalam bahasa Gereja Katolik.

Bagi Mgr Suharyo, sila pertama, ke­dua dan ketiga merupakan nilai-nilai yang menjiwai demokrasi di Indonesia. Sila keempat merupakan prosedur de­mo­krasi, dan sila kelima merupakan tujuan demokrasi, yaitu mewujudkan kesejah­teraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tidak berlebihan karena gagasan dan cintanya pada Pancasila dan Indonesia, Mgr Suharyo kerapkali digelari “Sang Uskup Pancasila”. Bagi Mgr Suharyo, da­lam sejarah perjalanan bangsa ini, Pancasila sudah teruji dan ampuh dalam menjaga persatuan dan kerukunan nasional.

Anugerah bagi Indonesia

Dalam konteks Indonesia yang sudah 74 tahun merdeka, figur penjaga dan penegak Pancasila seperti Mgr Suharyo merupakan anugerah besar dan teladan. Indonesia dewasa ini butuh figur-figur penjaga Pancasila. Dewasa ini, gagasan men­gamalkan dan menjaga Pancasila sangat relevan dan aktual digemakan di te­ngah situasi terjadinya kemerosotan da­lam pengetahuan, pengamalan dan pe­ng­hayatan Pancasila hingga dewasa ini. Maraknya berita hoaks, ujaran keben­cian, fitnah, intoleransi ujaran ra­si­s­me dan perpecahan di tengah masya­ra­kat merupakan hal yang sepatutnya tidak terjadi jika Pancasila sudah diamalkan.

Karena kecintaannya pada tanah air dan Indonesia yang pancasilais, Uskup Su­har­yo sebagai Ketua Presidium Kon­ferensi Waligereja Indonesia ikut hadir menandatangani Deklarasi Umat Ber­agama di Jakarta (Senin, 21/2015). Da­lam kesempatan itu, Uskup Suharyo me­nga­takan bahwa “dengan menjaga Pan­casila, kita ikut menjaga kerukunan. Pan­ca­sila adalah landasan kuat dan men­dasar dalam menjaga harmoni dalam NKRI”.

Penulis ikut menyaksikan penanda­ta­nga­nan deklarasi tersebut pada acara yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri empat tahun lalu dengan mak­sud sebagai upaya sinergi pemerin­tah dan majelis-majelis agama dalam mewujudkan kerukunan umat beragama.

Bangsa Indonesia bersyukur dan bergembira memiliki salah satu putera terbaik bangsa, Mgr Ignatius Suharyo, “Sang Uskup Pancasila” diangkat men­jadi kardinal. Kardinal bertugas bagi ba­ngsa dan Gereja Katolik Indonesia dalam menghadirkan keselamatan semua orang dan keutuhan ciptaan-Nya. Semoga ke­ha­diran Kardinal menjadi berkah bagi Indonesia.***

Penulis adalah umat KAJ dan mahasiswa pascasarjana STF Driyarkara Jakarta

Sumber:  Harian Analisa

Tidak ada komentar: